Minggu, 01 Agustus 2010

Di KeRuBung ApaRat

Entah dilihat dari sisi mana gw terlihat manis, dilihat dari sisi mana gw Nampak mirip artis, sampai-sampai 3 orang polisi, yang dua bertubuh six pack dan yang seorang lagi one pack alias cream-penk ngerubungin gw seperti wartawan ngerubungin ariel peterpan, dilihat dari sorot matanya mereka ngelihat gw seperti melihat lembaran uang kertas yang berterbangan di Jalan RayaBurning Dollar. Ada apa gerangan?

Sebulan yang lalu, tepatnya 4 Mei 2010, dalam suasana terik matahari yang cukup bikin tenggorokan gw dehidrasi. Gw disergap Aparat pemerintah itu seperti seorang curanmor. Gw bener-bener dibuat malu didepan umum.

Seumur-umur gw punya sedan biru (baca : motor biru, red), baru kali ini gw dikatain melanggar aturan lalu lintas sama polisi. Entah dari mana penilaian itu, cuz kesalahan yang gw lakukan sepertinya bukanlah kesalahan yang ekstrim apalagi disengaja melanggar undang-undang. Tapi apa daya, bagi mereka tugas adalah tugas, tilang adalah tilang, dan uang adalah uang. Gak ada toleransi, nggak ada peringatan, nggak ada kompromi, yang ada hanya transaksi rupiah sebagai denda, tawar menawar harga, serasa tukang cabe keriting di pasar Induk. Gw sebagai pengguna jalan raya merasa nggak etis rasanya mendengar komentar dan ocehan mereka yang seperti kaleng kerupuk kosong dipukul ama gagang sapu ijuk (Dong!!!) Alias Bullshit!.
:mRempit:Pagi hari itu gw buru-buru dateng ke sebuah gedung di kawasan Jl. Juanda – Bogor, dimana gw akan di ambil sumpah pegawai sebagai seorang Abdi Negara. Dengan setelan kemeja putih mengkilap yang baru gw beli malam harinya dan celana biru gelap yang gw pake, wusssh! Gw berangkat langsung tanpa memperhatikan kondisi motor gw saat itu. Saking nggak sabarnya gw pengen nunjukin kemeja putih baru gw itu, gw ngebut dan sama sekali nggak merhatiin kalo PLAT NOMOR bagian belakang motor sudah berada dalam posisi ontal-antil alias mau copot gara-gara baut murnya lepas satu.

Beruntung masih ada orang baik dimuka bumi ini, pengendara motor yang nyalip sebelah kanan gw tiba-tiba bilang “Mas, itu platnya mau jatuh”. Mengkhawatirkan memang, kalo sampai plat nomor itu jatuh dan hilang tanpa jejak. Bergegas gw ngerem kepinggiran jalan, dan kutengok benarlah adanya posisi plat nomor belakang memang sudah ontal-antil (kata majemuk jawa). Dan mur bautnya memang sudah mental entah kemana.

Sebagai orang Indonesia yang taat pada budaya Akh, entar aja ah…. Gw langsung copot aja itu plat, gw berencana memasangnya kembali nanti setelah pulang ke kosan. Gw masukin itu plat nomor ke dalam bagasi motor, dan lanjutkan perjalanan .

Siang berlalu, acara sumpah pegawai kelar, tanpa perasaan khawatir apapun, gw tunggangi itu motor hendak menuju ke kantor. Terhentilah langkah sepeda motor gw di Lampu Merah depan Istana Presiden yang letaknya tidak jauh persis dari gedung dimana gw ada acara.

“Mas, Kamu kepinggir! :police:” Tiba-tiba seorang polisi cream-penk yang lagi berdiri disudut lampu merah mendekat ke motor gw yang lagi berhenti, dengan gaya sok megang walkie-talkie.

Tanpa pikir panjang gw langsung menepikan si Biruku itu mendekat ke pos polisi yang memang berada dekat lampu merah. Gw bener-bener jadi Badut Lampu Merah siang itu, jadi tontonan menarik para pengemudi kendaraan yang juga lagi berhenti di lampu merah.

“Mas, tahu kenapa saya suruh minggir” Gw Cuma diam.
“Plat nomor belakang mas nggak ada, jadi mas saya tilang!”

“Pak, saya menyimpan nomor plat itu dalam bagasi, karena tadi pagi sudah dalam posisi mau lepas, sementara saya harus buru-buru”. Gw coba melindungi diri.

Apapun alasannya, Mas sudah melanggar! mana SIM dan STNKnya!”
Siapa sih yang berani nolak polisi? Langsung gw sodorkan juga SIM dan STNK yang diminta.

“Mas Saya tilang!” Si Creampeng mencoba menegaskan.

“Pak, tak perlu ditilanglah…,saya bisa pasang sekarang plat nomor itu”
Si Creampeng Cuma diem sok tegas sambil berkata “Mas ke pos dulu!”. Dia nyuruh gw ke pos yang disana sudah ada dua polisi yang lagi pada update FaceBooknya lewat BB.

Sepertinya kompromi ama si creampenk sudah gak berarti, gw sudah pasrah, ditilang, ya sudahlah. Dalam kepasrahan gw itu, ternyata keluar statemen polisi yang bikin gw empet.
“Mas mau sidang atau denda disini?!”

“Sidang aja pak.” Gw mencoba mempasrahkan diri sebagai WNI yang baik.

“Tapi Jadwal sidangnya kemungkinan 2 bulan lagi, karena sekarang lagi banyak kasus!”

Entah alasan klise atau memang fakta, gw dibuat memilih sidang dengan menunggu waktu selama itu atau denda ditempat.

“Mas, belum pernah ditilangkan, sekali-kali ditilangkan gapapa..., udah denda sekarang aja…?” satu orang polisi yang lagi selonjoran tiba-tiba nyeletuk nggak jelas. “Daripada nunggu 2 bulan..!”.
Hati gw mulai tergoda juga dengan tawaran itu, berhubung gw lagi banyak duit waktu itu. “Ya sudah pak, saya perlu denda berapa?” agak kesel juga sih sebenarnya.

“60.000 mas, mas bisa langsung jalan.”
“Pak saya nggak bawa uang sebanyak itu, saya Cuma ada 20.000!” gw berpura-pura.
“Ya sudah 50ribu!”
“Nggak ada pak, sumpah”.
Sepertinya 2 polisi itu gak percaya kalo gw sama sekali nggak ada uang.

“Ya, Sudah pak saya Cuma ada 30ribu nih, kalo bapak nggak mau terima ya sudah, terserah bapak mau gimana, ditilang nunggu 2 bulan gak masalah, saya adanya Cuma segini.”
Sepertinya kata-kata tawaran gw mematikan. Mereka terdiam melongo, sampe-sampe gw melihat tanda rupiah di atas kepalanya tiba-tiba pecah Praaaank! (Berasa gambar Komik).
Akhirnya 30ribu gw melayang juga ke tangan si Mpolici itu

Miris…, masih ada juga oknum pemerintah yang ngemis-ngemis rupiah dijalanan. Sekarang apa bedanya tingkah pola mereka sama pengamen atau tukang palak.
Rp. 30.000 = makan siang 3 orang polisi = Beramal

Abenk Cyclic (Siklus Abenk)

Sebuah Pertanyaan :
“kok panggilanmu abenk sih?”
Terkadang tiba-tiba keluar dari mulut fans gw yang keheranan kalau sudah tahu nama asli gw sebenarnya. Ya, gw juga bingung kenapa nama itu lebih popular ketimbang “Agus Waluyo” yang notabene nama bawaan sejak orok. Sejak SMP, gw sudah dipanggil teman-teman seangkatan gw dengan sebutan yang kereen itu . Buat yang pertama kali denger mungkin terkesan seperti nama Blasteran Jawa TiongHoa gimana gitu, “Koko Abenk, beli cerutunya donk PeGo...”. Tapi memang nggak bisa disalahkan juga karena gw memang ada sedikit keturunan cina, kalau temen gw bilang sih Cina Gosong bermata besar (Cina apaan tuh!).

Baiklah, akan kuuraikan kisah singkatnya “Just 4 Smile”.

Gw sebenarnya terlahir dengan nama full Agus Dimas Waluyo Hasan Sanapi, “Agus” bukan diambil dari nama bulan dimana gw dilahirkan cuz gw lahir bulan April, entah darimana Alm. babeh dapet inspirasi, “Dimas” itu lawan kata dari Nyimas, yaitu panggilan ningrat yang artinya anak laki-laki yang bagus, baik, ramah, dan rajin menabung, berharap gw keturunan Brama Kumbara atau Nyai Mantili, Kalau “Waluyo”itu singkatan Wage Wolu Loro (Hari Wage 82) yang artinya Hari wage tahun 82 dan sisanya itu, adalah nama belakang Babeh yang ikutan diembel-embelin.

Dengan nama itu gw dianugerahi kekurangan yang kalau gw sadari sekarang adalah sebuah keunikan dari Tuhan, yaitu gw paling takut sama yang namanya “UANG”, memang terdengar aneh, uang dimata gw waktu itu seperti kumpulan bakteri-bakteri yang saling berangkulan dan mengeluarkan bau amis dan bikin mual. Entah apa penyebabnya, waktu itu gw masih terlalu mungil untuk mempertanyakan hal tersebut, kemungkinan jaman dulu uang yang selalu gw pegang-pegang kebanyakan uang logam kembalian dari tukang ikan yang basah, tangan orangnya berdaki, berminyak, berlendir ampe kapalan.

Hingga kelas empat SD gw menjalani keanehan tersebut, dan saat itu gw bener-bener merasakan "betapa nggak enaknya nggak bisa megang uang" (seperti kata pejabat-pejabat jaman sekarang...). Ketika lonceng istirahat berbunyi "teng, teng, teng!" dimana teman-teman gw jajan, gw Cuma bisa duduk-duduk ngobrol , bermain dan terkadang sesekali ngiler memandangi mereka makan dan minum, biarpun begitu gw tetap menjadi anak kecil yang ceria menjalani hari-hari disekolah, dan tercatat selalu masuk The Big Three (ge-er mugholazoh! Alias Narsis abis). Sampai-sampai Kebiasaan jarang makan itu terbawa hingga sekarang, yaitu gw paling jarang makan siang sejak SD dulu. Gw lebih mengenal Makan besar di pagi dan Sore hari. Pagi, nasi warteg serantang sama oreg-oreg dan sambel goreng kentang, sore hari hajar lagi sama nasi dua pincuk plus ayam bakar, plus tempe bakar plus ati ampela goreng ama sambel dan lalapannya (begitu contohnya). (Yang begitu kau bilang jarang makan?)
Keunikan gw tersebut ada untungnya juga buat emak gw, karena tiap hari gw nggak pernah minta uang jajan kalau pergi ke sekolah. Tapi mungkin ada ketakutan juga dalam diri emak gw, gimana kalau gw besar nanti?, gimana caranya bisa nyari duit?, gimana bisa ngidupin anak istri? dll…. Ketakutan emak itu membawa gw menemui orang pintar bertitle Haji di kampung kelahiran gw, sampai akhirnya Pak Haji memvonis kalau gw kelebihan beban pada nama alias keberatan nama, Sambil diberi air minum yang sudah diberi doa-doa, beliau menyarankan agar nama gw dikurangi, dan akhirnya melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang dan wangsit yang menurut Pak haji terima, dipenggallah namaku hingga tersisa dua suku kata “Agus Waluyo”. Padahal, seandainya saja waktu kecil gw udah paham masalah magic itu, gw minta yang dipenggal jangan “Dimas”nya tapi “Agus”nya aja yang terlalu market-an.

Dan Doa-doa pak Haji sepertinya sangat manjur, nggak tahu sugesti, hipnotis atau jalan Tuhan, yang jelas habis malam berobat, bangun tidur pagi-pagi, mandi, dandan, berangkat sekolah dan “Mak…mana uang sakunya”. Nggak tahu gimana perasaan emak gw waktu itu, saat itu gw nggak paham apa yang terjadi, keanehan itu benar-benar hilang bagai ditelan bumi.

Ketika duduk dibangku kelas 1 SMP, nggak tahu kenapa perasaan risih dan males kalau dipanggil dengan sebutan “Agus” muncul begitu saja, dikelasku ada 3 nama Agus yaitu “Agus Sugianto, Agus Purwanto dan of course Si Murah Senyum “Agus Waluyo” (piss!). Ketika salah satu teman ada yang memanggil “Aguuuuus!!!”, menengoklah kami bertiga (100% Be-Te). Itu baru satu kelas doang, belum lagi kalau dijumlahin satu SMP, satu kampung, satu angkot plus satu pasar. Apalagi kalau gw iseng-iseng buka phonebook di Yellow Pages, gw Cuma bisa geleng-geleng kepala. Sampai Akhirnya gw sepakat sama temen segenk SMP, kalau kita harus punya panggilan-panggilan aneh waktu itu. Sepakatlah kita segenk besar punya nama-nama panggilan gaoool gitu dech, ada “Kumel” (Yanto), “Ajay” (Nurjaya), “Kuplax” (Jamal), “Ceker” (Bambang), “Bandi” (juwandi), “Demblo” (Ade G), “Tompel” (Mamat), “Dopar” (Mudofar), dan masih banyak lagi. Pokoknya aneh-aneh tapi tetap punya arti tersendiri. Dan giliran gw di dampratlah dengan julukan “Abenk”, alasannya sih karena gw sering nunggu dan turun angkot depan bengkel, jadi dipadatkanlah menjadi Abenk (Anak depan Bengkel). Awalnya Aneh juga dengernya, gw minta ganti huruf B-nya dengan huruf G biar agak kerenan dikit, tapi malah dibilang udah banyak yang pake nama itu. Haduh mau gimana lagi…..padahal gw berharap bisa dipanggil David, Thomas, atau Chiko gitu. Tapi apa daya komentar gw ditanggapin tapi tidak dianggap, alias temen-temen menerima tapi tetap saja mereka memanggil gw dengan sebutan ABENK. Mau nggak mau gw harus nengok.

Menginjak SMU ampe kuliah panggilan itu terus digunakan, berhubung ada temen genk yang selalu saja satu sekolahan dan satu kampus. Siklus yang gw sadari adalah sebatas itu, selanjutnya entah gimana pola rantainya sampai hampir 95% temanku lebih nyaman memanggilku ABENK. Yah, Abenk Si Blacksweet Limited Edition.

Whatever-lah anda mau memanggilku apa, mau Agus, Abenk, Thomas, David, Chiko, Adly, atau apalah mboten nopo-nopo cuz seperti Pepatah "Apalah artinya sebuah nama". Dan sepertinya, Namaku juga tidak mempunyai makna yang mendalam seperti kata-kata bijak "Nama adalah Doa orang tua" cuz Orang tua jawa jaman dulu apalagi yang awam tentang agama lebih mengedepankan wangsit ketimbang doa. Tapi judul album Peterpan "Sebuah Nama Sebuah Cerita", mungkin pepatah yang tepat buat my familiar name "ABENK" yang belum sempat di bubur merah-bubur putihkan.

Hmmm andai saja seluruh pejabat negeri ini diberi keanehan seperti Abenk kecil, mungkin tak akan ada korupsi (Sambil bertopang dagu, red)