Senin, 13 Januari 2014

Si Benjol Bertingkah

Sebelum membaca, Mari kita teriakan kalimat "NGGAK PENTING BANGET!" buat tulisan gw nyang satu ini. BeCuz this is just the simple story of my experience, yang rasa-rasanya tak perlu di cerna dalem-dalem. Tapi gw merasakan ada just a little bit funny di dalamnya. Enjoy...

Menonjol keras, Berdiameter 5 cm, dengan ketinggian mencapai 3 cm dari atas permukaan kulit, terasa gatal dan sangat mengganggu. Sebuah benjolan parah (mirip 7 buah paku payung) beberapa minggu lalu nancap di bagian punggung gw, tepatnya di tengah-tengah antara tulang belikat gw yang simetris, yang membuat gw susah tidur sepanjang malam sebelum ramadhan, rasa gatalnya bikin gw pengen digaruk sama kuku-kuku Trio Macan. Dugaan sementara gw saat itu cuma jerawat batu kronis, Bentuknya memang menyerupai bisul tapi tidak memiliki ujung mata nanah, dan rasa sakitnya sangat terasa pada saat tertekan linggis atau tergesek parut kelapa. Gw agak parno juga, khawatir kalau itu adalah benih sel-sel kanker atau tumor jinak yang mulai menampakkan diri. Tapi syukurlah, setelah buru-buru cek-up, the dokter cuma memvonis kalau benjolan itu berupa tonjolan kelenjar lemak yang menumpuk.

Kelenjar lemak menumpuk? Nggak mungkin….Perasaan pola hidup yang gw jalani sudah seperti pola hidup artis kebanyakan, gw paling rajin yang namanya minum air putih (ala Afghan Syahreza), makan sayuran dan buah (ala Darius Sinatria), trus Puasa hari Senin sampai Kamis (ala Mpok Ati), kok bisa divonis kelenjar lemak menumpuk?. Apa nggak salah tuh dokter?. Tapi terserahlah apa kata dokter, mau bilang gw penumpuk lemak, penimbun lemak, atau mungkin produsen lemak yang penting adalah adakah obat yang bisa mengempiskan Si Benjol ini?.

Saat selesai Check up, The Dokter hanya memberikan resep berupa 3 jenis obat yaitu Antibiotik, pelentur otot dan pemecah lemak. Gw disuruh minum 3 kali sehari tuh obat. But I don’t know why, Si Benjol sepertinya tetap bertingkah dan gak mau pergi, masih betah bersemayam di tengah-tengah belikat gw. Ibarat kalimat frustasi "Hidupku laksana dihinggapi kecoa bunting", kemana-mana gw harus sabar membawa si Benjol itu ikut serta.

Akh, Kelenjar lemak dari mana sih? Awalnya gw agak nggak percaya dengan dugaan dokter yang juga kelihatan ragu-ragu saat memvonis, maklum dokter yang gw datengi bukan dokter spesialis kulit atau penyakit dalam, tapi Cuma dokter umum biasa di klinik 24 jam, dan Si Benjol Cuma dilihat, diraba dan diterawang, tanpa tes darah, ronsen atau tes lab.

Gw sempet juga punya niatan mendatangi dokter spesialisnya langsung, berhubung obat yang diberikan dokter umum biasa, belum juga mampu mengempiskan benjolan yang makin hari justru makin terasa menyiksa, karena setiap malam gw harus tidur dengan gaya Sunnah Rasulullah alias miring menghadap kiblat, karena sekalinya gw tidur telentang si benjol mengganjal dengan rasa sakit yang bisa bikin sesak paru-paru.

Kembali kita mengingat kalimat yang kerap diucapkan ustad-utadzah seantero jagat raya bahwa "Setiap cobaan pasti ada hikmahnya", mungkin keberadaan si benjol ini memberikan teguran buat gw untuk memperbaiki dan mencoba mengontrol semua makanan yang masuk ke lambung gw. Dendeng batako, gorengan genteng dan urap paku payung adalah menu yang coba gw hindari. Dan selama ini sekalinya gw makan, porsinya persis kayak orang yang sudah tiga hari tiga malem gak makan, ditambah menu campur aduk tanpa break apalagi jeda, abis itu ngagoler alias tidur tanpa duduk 2 jam dulu. Wajar kalau organ-organ pencernaan gw sekarat, sampe-sampe lemak aja bisa menumpuk dan nggak terurai begitu, di tambah gw yang jarang olah raga apalagi ngegym.

Tapi by the way, belajar dari ilmu kimia yang gw kenyam waktu di bangku SMA, gw inget kalau lemak bisa larut kalo di beri zat asam. Darisitu gw berpikir untuk coba-coba jamu atau minum minuman asam alami, mulai dari jamu kunyit asem, ampe ngeborong yang namanya jus belimbing keris (mpu gandring pula..). Ampun…yang ada lambung gw dibuat makin getol ngeluari asam lambungnya, perih dan mual.

Dalam kesabaran, gw mencoba share sama semua temen-temen kosan, temen-temen kantor, ampe ibu-ibu tukang jamu ontel yang gw temui dijalan (lebay!). Gw masih belum punya niatan buat ke dokter kulit langsung. Cuz sepertinya lumayan mahal juga kalau Cuma buat periksa gitu- gitu doang.

Sampai akhirnya, saat gw lagi nonton acara favorit bujang-bujang lapuk seIndonesia yaitu Take me out Indonesia, pas iklan gw tanpa sengaja disuguhin iklan sebuah produk minuman Green Tea yang menurut pabriknya bisa melangsingkan badan. Hmm… gw langsung kepikiran gimana kalo gw minum teh pahit tiap pagi dan malem, nggak harus merek di iklan itu, siapa tahu ada perubahan. And It’s so incredible…Benjol gw dalam 1 minggu melunak dan mengempis, saat ditekan sudah tak terasa sakit, dan gw bisa tidur dengan berbagai posisi yang gw suka. Dan Gw bisa mimpi nyampe Singapore lagi….

Mungkin Anda akan bertanya, kenapa teh hijau bisa dipakai sebagai salah satu zat di dalam produk pembakar lemak? Karena ekstrak teh hijau dapat meningkatkan tingkat oksidasi lemak di dalam tubuh, yang berarti tubuh Anda akan menggunakan lemak sebagai sumber energi dan hasilnya metabolisme tubuh Anda meningkat. Ekstrak teh hijau juga berguna untuk menurunkan kadar LDL atau kolesterol jahat di dalam tubuh Anda. Selain itu teh hijau juga mengandung kafein yang bermanfaat dalam pembakaran lemak (Wikipedia.com). Yah…mudah-mudahan Si Benjol Bertingkah yang mirip kecoa bunting nemplok itu tidak akan terjadi kembali.

5 komentar:

  1. ahhahahhahhaha...
    dasarrr mass abenggg...

    tp bolehh jugaa tuhh asem n teh hijauuu'a.biarr akuu bisa langsingg..
    xixiixixii

    BalasHapus
  2. Intinya, benjolan lemak bs smbuh dgn minum green tea ya mas?hehe..

    Aku pikir benjolan itu herves..
    Serem..

    BalasHapus
  3. mass lagii dunkk nulisnyaa yg byk.. encerr bgt tuh otakk mpee bisaa bqn ketawaa...hihi

    BalasHapus
  4. benk,,,great,,setiap,kisah b isa kamu kemas secara apik,,aku salut benk,,u gk sah mimpi jd artis lagi benk,,mending u jadi penulis aja,,

    BalasHapus