Minggu, 22 Desember 2013
Ibuku Sayang Anakmu Malang….
Sambil dengerin "Story of My Life"nya 1D pada moment mother’s day Hari ini, kucoba tuliskan sedikit memori masa kecil yang sedikit membenak dalam kalbu, yang mengingatkanku pada ibu dan ceritanya. Dalam cerita ini kucoba kurangi penggunaan bahasa yang biasa kugunakan sehari-hari yaitu bahasa alay-yers agar tak mengurangi arti dari tulisan yang ingin gw sampaikan.
Masih ingatkah teman-teman semua dengan sosok abenk kecil yang sudah kuceritakan sedikit pada tuliskanku sebelumnya “Abenk Cyclic”, dimana abenk dilahirkan dengan ketampanan tiada tara namun dengan kelemahan yang tiada duanya haha…abenk kecil takut sama uang. Kenyataan yang selalu agak memalukan buat diceritakan. Tapi gpp-lah gw udah pasang muka pager kalo ada orang yang mo nyindir, ngeledek maupun ngetawain. So what githuloch..! (tetap alay…).
Abenk kecil yang takut sama uang dan rajin berangkat ke sekolah setiap pagi ini, paling marah kalau dibecanda-becandain “ini uang jajannya..nih pegang!” baik abang gw, sodara-sodara gw atau temen gw yang kebetulan nyamperin, semuanya sama-sama “nge-bete-in”. mereka gak ngerti juga masalah keanehan gw itu, mereka Cuma ketawa-ketiwi..padahal gw juga gak mau gituloh punya keanehan kayak begitu. Yah , penenangku Cuma satu pagi itu, ibu. Ibu yang selalu bilang : “udah…kalian jangan pada ribut, ini ibu titip uang jajan buat abenk yah, nanti jam istirahat temenin abenk jajan!”. Ibu selalu menitipkan uang jajan sekolahku pada siapa aja yang mo dititipin…Empat tahun dari kelas 1 – 4, rutinitas memalukan seperti itulah kejadiannya setiap hari sekolah.
Rasa Sayang ibu mengingatkanku juga pada masa kecil yang nakal dan kalo minta sesuatu harus diturutin gimanapun caranya, saking kekeuhnya kalo minta sesuatu babeh suka capek ngomel-omel buat nasehatin. Sementara ibuku Cuma bilang “kalo punya keinginan jangan Cuma minta terus ngambek.., tapi usaha dulu..”. dan nasehat itu mengingatkan Gw banget pada moment waktu gw minta game-bot tetris yang harganya mahal banget Rp. 30.000 (thn. 1990) waktu itu, gw bela-belain sampe harus cari muka menjadi anak baik yang rajin membantu ibu nyapu rumah dan pekarangan tiap sore. Dan gw inget ketika gw ngiler sama mobil-mobilan Tamiya jadul yang masih pake kabel, gw minta sama ibu buru-buru di sunat biar uang sunatnya bisa buat beli mobil itu. Yah begitulah contohnya, memang agak absurd.
Ibuku pernah bilang, “kamu adalah anak ibu yang paling alot kalo dibilangin, kenceng kalo nangis, udah kenceng lama lagi. Sampai-sampai tetangga satu RT suka bilang berisik kalo kamu lagi nangis”, yang biasanya gak jauh-jauh dikarenakan berantem ama kakak atau ditinggal ibu gak jelas kemana…ya begitu dekatnya ibu dihati, setiap kali ada apa-apa pasti yang diteriakin adalah ibu, setiap berantem adek kakak yang diteriakin pasti ibu. Bahkan ibuku pernah bercerita “masa balita mu itu paling susah yang namanya dikelonin, kecuali satu yang bikin kamu cepet tidur yaitu nete sambil ngelus-ngelus tali kutang ibu”…what! Gak mungkin akh bu, kok aku gak inget moment itu?.
Sejak bapak tiada, ibu memang struggle merawat kami berlima dengan segala suka dukanya. Ibu tak pernah berhenti bersemangat menjalani hari-harinya sabagai petani yang manjadi tumpuan perekonomian kami dulu, dan tak pernah mengeluh menjadi ibu bagi kami anak-anaknya yang nakal. Bagi seorang ibu, menjadi ibu bagi anak-anaknya saja sudah sebuah kebahagian yang harus disyukuri, begitu kata ibuku.
Kini aku sudah mandiri bu, aku sudah menjadi abenk yang sekarang ini, semua adalah berkat ibu sama bapak. Tapi Hingga detik ini, aku belum bisa membahagiakan ibu sama bapak, bapak sudah pergi duluan disaat aku masih menyusahkannya dan disaat aku ingin membahagiakan ibu, kita dirundung masalah yang gak pernah ada habisnya . Meski ibu tak pernah minta apapun dari aku, tapi sebagai anak apalagi yang selama ini telah banyak menyusahkan ingin sekali membahagiakan ibu, skalipun hanya berupa perhatian. Ibuku Cuma bilang “perhatianmu pada adik-adikmu itu sudah membuat ibu seneng, kepedulianmu dengan masalah keluarga juga membuat ibu menjadi tenang”. Terima kasih ibu selalu mengerti dengan keadaan yang ada.
Aku selalu berdoa "Ya Allah, berilah kesempatan untukku agar aku bisa membahagikan ibuku disisa umurku dan bahagiakanlah ibuku disisa umurnya." I Love You Mom..
Minggu, 15 Desember 2013
I'm Back Guys! Here i am Bro Ab’s!
Gara-gara dikompor-komporin ama blogers yang notabene adalah fans gw haha..yang pada sibuk texting, chat, comment, dan negor langsung “mana neh..tulisannya”, gw jadi agak merasa termotivasi buat back to write..memang mengusir perasaan malas itu aduuuuuh susahnya minta ampun, ditambah faktor "u" yang bikin otak cepet ngantuk, lelah, dan males mikir… so guys, skrg sebagai tulisan pertama setelah gw vakum, gw mau certain kemana aja gw menghilang selama ini..(penting yah?)
Here i am "abenk si blacksweet limited edition.."
Minggu, 01 Agustus 2010
Di KeRuBung ApaRat
Entah dilihat dari sisi mana gw terlihat manis, dilihat dari sisi mana gw Nampak mirip artis, sampai-sampai 3 orang polisi, yang dua bertubuh six pack dan yang seorang lagi one pack alias cream-penk ngerubungin gw seperti wartawan ngerubungin ariel peterpan, dilihat dari sorot matanya mereka ngelihat gw seperti melihat lembaran uang kertas yang berterbangan di Jalan Raya
. Ada apa gerangan?
Sebulan yang lalu, tepatnya 4 Mei 2010, dalam suasana terik matahari yang cukup bikin tenggorokan gw dehidrasi. Gw disergap Aparat pemerintah itu seperti seorang curanmor. Gw bener-bener dibuat malu didepan umum.
Seumur-umur gw punya sedan biru (baca : motor biru, red), baru kali ini gw dikatain melanggar aturan lalu lintas sama polisi. Entah dari mana penilaian itu, cuz kesalahan yang gw lakukan sepertinya bukanlah kesalahan yang ekstrim apalagi disengaja melanggar undang-undang. Tapi apa daya, bagi mereka tugas adalah tugas, tilang adalah tilang, dan uang adalah uang. Gak ada toleransi, nggak ada peringatan, nggak ada kompromi, yang ada hanya transaksi rupiah sebagai denda, tawar menawar harga, serasa tukang cabe keriting di pasar Induk. Gw sebagai pengguna jalan raya merasa nggak etis rasanya mendengar komentar dan ocehan mereka yang seperti kaleng kerupuk kosong dipukul ama gagang sapu ijuk (Dong!!!) Alias Bullshit!.
Pagi hari itu gw buru-buru dateng ke sebuah gedung di kawasan Jl. Juanda – Bogor, dimana gw akan di ambil sumpah pegawai sebagai seorang Abdi Negara. Dengan setelan kemeja putih mengkilap yang baru gw beli malam harinya dan celana biru gelap yang gw pake, wusssh! Gw berangkat langsung tanpa memperhatikan kondisi motor gw saat itu. Saking nggak sabarnya gw pengen nunjukin kemeja putih baru gw itu, gw ngebut dan sama sekali nggak merhatiin kalo PLAT NOMOR bagian belakang motor sudah berada dalam posisi ontal-antil alias mau copot gara-gara baut murnya lepas satu.
Beruntung masih ada orang baik dimuka bumi ini, pengendara motor yang nyalip sebelah kanan gw tiba-tiba bilang “Mas, itu platnya mau jatuh”. Mengkhawatirkan memang, kalo sampai plat nomor itu jatuh dan hilang tanpa jejak. Bergegas gw ngerem kepinggiran jalan, dan kutengok benarlah adanya posisi plat nomor belakang memang sudah “ontal-antil” (kata majemuk jawa). Dan mur bautnya memang sudah mental entah kemana.
Sebagai orang Indonesia yang taat pada budaya “Akh, entar aja ah…”. Gw langsung copot aja itu plat, gw berencana memasangnya kembali nanti setelah pulang ke kosan. Gw masukin itu plat nomor ke dalam bagasi motor, dan lanjutkan perjalanan .
Siang berlalu, acara sumpah pegawai kelar, tanpa perasaan khawatir apapun, gw tunggangi itu motor hendak menuju ke kantor. Terhentilah langkah sepeda motor gw di Lampu Merah depan Istana Presiden yang letaknya tidak jauh persis dari gedung dimana gw ada acara.
“Mas, Kamu kepinggir!
” Tiba-tiba seorang polisi cream-penk yang lagi berdiri disudut lampu merah mendekat ke motor gw yang lagi berhenti, dengan gaya sok megang walkie-talkie.
Tanpa pikir panjang gw langsung menepikan si Biruku itu mendekat ke pos polisi yang memang berada dekat lampu merah. Gw bener-bener jadi Badut Lampu Merah siang itu, jadi tontonan menarik para pengemudi kendaraan yang juga lagi berhenti di lampu merah.
“Mas, tahu kenapa saya suruh minggir” Gw Cuma diam.
“Plat nomor belakang mas nggak ada, jadi mas saya tilang!”
“Pak, saya menyimpan nomor plat itu dalam bagasi, karena tadi pagi sudah dalam posisi mau lepas, sementara saya harus buru-buru”. Gw coba melindungi diri.
Apapun alasannya, Mas sudah melanggar! mana SIM dan STNKnya!”
Siapa sih yang berani nolak polisi? Langsung gw sodorkan juga SIM dan STNK yang diminta.
“Mas Saya tilang!” Si Creampeng mencoba menegaskan.
“Pak, tak perlu ditilanglah…,saya bisa pasang sekarang plat nomor itu”
Si Creampeng Cuma diem sok tegas sambil berkata “Mas ke pos dulu!”. Dia nyuruh gw ke pos yang disana sudah ada dua polisi yang lagi pada update FaceBooknya lewat BB.
Sepertinya kompromi ama si creampenk sudah gak berarti, gw sudah pasrah, ditilang, ya sudahlah. Dalam kepasrahan gw itu, ternyata keluar statemen polisi yang bikin gw empet.
“Mas mau sidang atau denda disini?!”
“Sidang aja pak.” Gw mencoba mempasrahkan diri sebagai WNI yang baik.
“Tapi Jadwal sidangnya kemungkinan 2 bulan lagi, karena sekarang lagi banyak kasus!”
Entah alasan klise atau memang fakta, gw dibuat memilih sidang dengan menunggu waktu selama itu atau denda ditempat.
“Mas, belum pernah ditilangkan, sekali-kali ditilangkan gapapa..., udah denda sekarang aja…?” satu orang polisi yang lagi selonjoran tiba-tiba nyeletuk nggak jelas. “Daripada nunggu 2 bulan..!”.
Hati gw mulai tergoda juga dengan tawaran itu, berhubung gw lagi banyak duit waktu itu. “Ya sudah pak, saya perlu denda berapa?” agak kesel juga sih sebenarnya.
“60.000 mas, mas bisa langsung jalan.”
“Pak saya nggak bawa uang sebanyak itu, saya Cuma ada 20.000!” gw berpura-pura.
“Ya sudah 50ribu!”
“Nggak ada pak, sumpah”.
Sepertinya 2 polisi itu gak percaya kalo gw sama sekali nggak ada uang.
“Ya, Sudah pak saya Cuma ada 30ribu nih, kalo bapak nggak mau terima ya sudah, terserah bapak mau gimana, ditilang nunggu 2 bulan gak masalah, saya adanya Cuma segini.”
Sepertinya kata-kata tawaran gw mematikan. Mereka terdiam melongo, sampe-sampe gw melihat tanda rupiah di atas kepalanya tiba-tiba pecah Praaaank! (Berasa gambar Komik).
Akhirnya 30ribu gw melayang juga ke tangan si Mpolici itu
Miris…, masih ada juga oknum pemerintah yang ngemis-ngemis rupiah dijalanan. Sekarang apa bedanya tingkah pola mereka sama pengamen atau tukang palak.
Rp. 30.000 = makan siang 3 orang polisi = Beramal
Sebulan yang lalu, tepatnya 4 Mei 2010, dalam suasana terik matahari yang cukup bikin tenggorokan gw dehidrasi. Gw disergap Aparat pemerintah itu seperti seorang curanmor. Gw bener-bener dibuat malu didepan umum.
Seumur-umur gw punya sedan biru (baca : motor biru, red), baru kali ini gw dikatain melanggar aturan lalu lintas sama polisi. Entah dari mana penilaian itu, cuz kesalahan yang gw lakukan sepertinya bukanlah kesalahan yang ekstrim apalagi disengaja melanggar undang-undang. Tapi apa daya, bagi mereka tugas adalah tugas, tilang adalah tilang, dan uang adalah uang. Gak ada toleransi, nggak ada peringatan, nggak ada kompromi, yang ada hanya transaksi rupiah sebagai denda, tawar menawar harga, serasa tukang cabe keriting di pasar Induk. Gw sebagai pengguna jalan raya merasa nggak etis rasanya mendengar komentar dan ocehan mereka yang seperti kaleng kerupuk kosong dipukul ama gagang sapu ijuk (Dong!!!) Alias Bullshit!.
Beruntung masih ada orang baik dimuka bumi ini, pengendara motor yang nyalip sebelah kanan gw tiba-tiba bilang “Mas, itu platnya mau jatuh”. Mengkhawatirkan memang, kalo sampai plat nomor itu jatuh dan hilang tanpa jejak. Bergegas gw ngerem kepinggiran jalan, dan kutengok benarlah adanya posisi plat nomor belakang memang sudah “ontal-antil” (kata majemuk jawa). Dan mur bautnya memang sudah mental entah kemana.
Sebagai orang Indonesia yang taat pada budaya “Akh, entar aja ah…”. Gw langsung copot aja itu plat, gw berencana memasangnya kembali nanti setelah pulang ke kosan. Gw masukin itu plat nomor ke dalam bagasi motor, dan lanjutkan perjalanan .
Siang berlalu, acara sumpah pegawai kelar, tanpa perasaan khawatir apapun, gw tunggangi itu motor hendak menuju ke kantor. Terhentilah langkah sepeda motor gw di Lampu Merah depan Istana Presiden yang letaknya tidak jauh persis dari gedung dimana gw ada acara.
“Mas, Kamu kepinggir!
Tanpa pikir panjang gw langsung menepikan si Biruku itu mendekat ke pos polisi yang memang berada dekat lampu merah. Gw bener-bener jadi Badut Lampu Merah siang itu, jadi tontonan menarik para pengemudi kendaraan yang juga lagi berhenti di lampu merah.
“Mas, tahu kenapa saya suruh minggir” Gw Cuma diam.
“Plat nomor belakang mas nggak ada, jadi mas saya tilang!”
“Pak, saya menyimpan nomor plat itu dalam bagasi, karena tadi pagi sudah dalam posisi mau lepas, sementara saya harus buru-buru”. Gw coba melindungi diri.
Apapun alasannya, Mas sudah melanggar! mana SIM dan STNKnya!”
Siapa sih yang berani nolak polisi? Langsung gw sodorkan juga SIM dan STNK yang diminta.
“Mas Saya tilang!” Si Creampeng mencoba menegaskan.
“Pak, tak perlu ditilanglah…,saya bisa pasang sekarang plat nomor itu”
Si Creampeng Cuma diem sok tegas sambil berkata “Mas ke pos dulu!”. Dia nyuruh gw ke pos yang disana sudah ada dua polisi yang lagi pada update FaceBooknya lewat BB.
Sepertinya kompromi ama si creampenk sudah gak berarti, gw sudah pasrah, ditilang, ya sudahlah. Dalam kepasrahan gw itu, ternyata keluar statemen polisi yang bikin gw empet.
“Mas mau sidang atau denda disini?!”
“Sidang aja pak.” Gw mencoba mempasrahkan diri sebagai WNI yang baik.
“Tapi Jadwal sidangnya kemungkinan 2 bulan lagi, karena sekarang lagi banyak kasus!”
Entah alasan klise atau memang fakta, gw dibuat memilih sidang dengan menunggu waktu selama itu atau denda ditempat.
“Mas, belum pernah ditilangkan, sekali-kali ditilangkan gapapa..., udah denda sekarang aja…?” satu orang polisi yang lagi selonjoran tiba-tiba nyeletuk nggak jelas. “Daripada nunggu 2 bulan..!”.
Hati gw mulai tergoda juga dengan tawaran itu, berhubung gw lagi banyak duit waktu itu. “Ya sudah pak, saya perlu denda berapa?” agak kesel juga sih sebenarnya.
“60.000 mas, mas bisa langsung jalan.”
“Pak saya nggak bawa uang sebanyak itu, saya Cuma ada 20.000!” gw berpura-pura.
“Ya sudah 50ribu!”
“Nggak ada pak, sumpah”.
Sepertinya 2 polisi itu gak percaya kalo gw sama sekali nggak ada uang.
“Ya, Sudah pak saya Cuma ada 30ribu nih, kalo bapak nggak mau terima ya sudah, terserah bapak mau gimana, ditilang nunggu 2 bulan gak masalah, saya adanya Cuma segini.”
Sepertinya kata-kata tawaran gw mematikan. Mereka terdiam melongo, sampe-sampe gw melihat tanda rupiah di atas kepalanya tiba-tiba pecah Praaaank! (Berasa gambar Komik).
Akhirnya 30ribu gw melayang juga ke tangan si Mpolici itu
Miris…, masih ada juga oknum pemerintah yang ngemis-ngemis rupiah dijalanan. Sekarang apa bedanya tingkah pola mereka sama pengamen atau tukang palak.
Rp. 30.000 = makan siang 3 orang polisi = Beramal
Abenk Cyclic (Siklus Abenk)
Sebuah Pertanyaan :
“kok panggilanmu abenk sih?”
Terkadang tiba-tiba keluar dari mulut fans gw yang keheranan kalau sudah tahu nama asli gw sebenarnya. Ya, gw juga bingung kenapa nama itu lebih popular ketimbang “Agus Waluyo” yang notabene nama bawaan sejak orok. Sejak SMP, gw sudah dipanggil teman-teman seangkatan gw dengan sebutan yang kereen itu
. Buat yang pertama kali denger mungkin terkesan seperti nama Blasteran Jawa TiongHoa gimana gitu, “Koko Abenk, beli cerutunya donk PeGo...”. Tapi memang nggak bisa disalahkan juga karena gw memang ada sedikit keturunan cina, kalau temen gw bilang sih Cina Gosong bermata besar (Cina apaan tuh!).
Baiklah, akan kuuraikan kisah singkatnya “Just 4 Smile”.
Gw sebenarnya terlahir dengan nama full Agus Dimas Waluyo Hasan Sanapi, “Agus” bukan diambil dari nama bulan dimana gw dilahirkan cuz gw lahir bulan April, entah darimana Alm. babeh dapet inspirasi, “Dimas” itu lawan kata dari Nyimas, yaitu panggilan ningrat yang artinya anak laki-laki yang bagus, baik, ramah, dan rajin menabung, berharap gw keturunan Brama Kumbara atau Nyai Mantili, Kalau “Waluyo”itu singkatan Wage Wolu Loro (Hari Wage 82) yang artinya Hari wage tahun 82 dan sisanya itu, adalah nama belakang Babeh yang ikutan diembel-embelin.
Dengan nama itu gw dianugerahi kekurangan yang kalau gw sadari sekarang adalah sebuah keunikan dari Tuhan, yaitu gw paling takut sama yang namanya “UANG”, memang terdengar aneh, uang dimata gw waktu itu seperti kumpulan bakteri-bakteri yang saling berangkulan dan mengeluarkan bau amis dan bikin mual. Entah apa penyebabnya, waktu itu gw masih terlalu mungil untuk mempertanyakan hal tersebut, kemungkinan jaman dulu uang yang selalu gw pegang-pegang kebanyakan uang logam kembalian dari tukang ikan yang basah, tangan orangnya berdaki, berminyak, berlendir ampe kapalan.
Hingga kelas empat SD gw menjalani keanehan tersebut, dan saat itu gw bener-bener merasakan "betapa nggak enaknya nggak bisa megang uang" (seperti kata pejabat-pejabat jaman sekarang...). Ketika lonceng istirahat berbunyi "teng, teng, teng!" dimana teman-teman gw jajan, gw Cuma bisa duduk-duduk ngobrol , bermain dan terkadang sesekali ngiler memandangi mereka makan dan minum, biarpun begitu gw tetap menjadi anak kecil yang ceria menjalani hari-hari disekolah, dan tercatat selalu masuk The Big Three (ge-er mugholazoh! Alias Narsis abis). Sampai-sampai Kebiasaan jarang makan itu terbawa hingga sekarang, yaitu gw paling jarang makan siang sejak SD dulu. Gw lebih mengenal Makan besar di pagi dan Sore hari. Pagi, nasi warteg serantang sama oreg-oreg dan sambel goreng kentang, sore hari hajar lagi sama nasi dua pincuk plus ayam bakar, plus tempe bakar plus ati ampela goreng ama sambel dan lalapannya (begitu contohnya). (Yang begitu kau bilang jarang makan?)
Keunikan gw tersebut ada untungnya juga buat emak gw, karena tiap hari gw nggak pernah minta uang jajan kalau pergi ke sekolah. Tapi mungkin ada ketakutan juga dalam diri emak gw, gimana kalau gw besar nanti?, gimana caranya bisa nyari duit?, gimana bisa ngidupin anak istri? dll…. Ketakutan emak itu membawa gw menemui orang pintar bertitle Haji di kampung kelahiran gw, sampai akhirnya Pak Haji memvonis kalau gw kelebihan beban pada nama alias keberatan nama, Sambil diberi air minum yang sudah diberi doa-doa, beliau menyarankan agar nama gw dikurangi, dan akhirnya melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang dan wangsit yang menurut Pak haji terima, dipenggallah namaku hingga tersisa dua suku kata “Agus Waluyo”. Padahal, seandainya saja waktu kecil gw udah paham masalah magic itu, gw minta yang dipenggal jangan “Dimas”nya tapi “Agus”nya aja yang terlalu market-an.
Dan Doa-doa pak Haji sepertinya sangat manjur, nggak tahu sugesti, hipnotis atau jalan Tuhan, yang jelas habis malam berobat, bangun tidur pagi-pagi, mandi, dandan, berangkat sekolah dan “Mak…mana uang sakunya”. Nggak tahu gimana perasaan emak gw waktu itu, saat itu gw nggak paham apa yang terjadi, keanehan itu benar-benar hilang bagai ditelan bumi.
Ketika duduk dibangku kelas 1 SMP, nggak tahu kenapa perasaan risih dan males kalau dipanggil dengan sebutan “Agus” muncul begitu saja, dikelasku ada 3 nama Agus yaitu “Agus Sugianto, Agus Purwanto dan of course Si Murah Senyum “Agus Waluyo” (piss!). Ketika salah satu teman ada yang memanggil “Aguuuuus!!!”, menengoklah kami bertiga (100% Be-Te). Itu baru satu kelas doang, belum lagi kalau dijumlahin satu SMP, satu kampung, satu angkot plus satu pasar. Apalagi kalau gw iseng-iseng buka phonebook di Yellow Pages, gw Cuma bisa geleng-geleng kepala. Sampai Akhirnya gw sepakat sama temen segenk SMP, kalau kita harus punya panggilan-panggilan aneh waktu itu. Sepakatlah kita segenk besar punya nama-nama panggilan gaoool gitu dech, ada “Kumel” (Yanto), “Ajay” (Nurjaya), “Kuplax” (Jamal), “Ceker” (Bambang), “Bandi” (juwandi), “Demblo” (Ade G), “Tompel” (Mamat), “Dopar” (Mudofar), dan masih banyak lagi. Pokoknya aneh-aneh tapi tetap punya arti tersendiri. Dan giliran gw di dampratlah dengan julukan “Abenk”, alasannya sih karena gw sering nunggu dan turun angkot depan bengkel, jadi dipadatkanlah menjadi Abenk (Anak depan Bengkel). Awalnya Aneh juga dengernya, gw minta ganti huruf B-nya dengan huruf G biar agak kerenan dikit, tapi malah dibilang udah banyak yang pake nama itu. Haduh mau gimana lagi…..padahal gw berharap bisa dipanggil David, Thomas, atau Chiko gitu. Tapi apa daya komentar gw ditanggapin tapi tidak dianggap, alias temen-temen menerima tapi tetap saja mereka memanggil gw dengan sebutan ABENK. Mau nggak mau gw harus nengok.
Menginjak SMU ampe kuliah panggilan itu terus digunakan, berhubung ada temen genk yang selalu saja satu sekolahan dan satu kampus. Siklus yang gw sadari adalah sebatas itu, selanjutnya entah gimana pola rantainya sampai hampir 95% temanku lebih nyaman memanggilku ABENK. Yah, Abenk Si Blacksweet Limited Edition.
Whatever-lah anda mau memanggilku apa, mau Agus, Abenk, Thomas, David, Chiko, Adly, atau apalah mboten nopo-nopo cuz seperti Pepatah "Apalah artinya sebuah nama". Dan sepertinya, Namaku juga tidak mempunyai makna yang mendalam seperti kata-kata bijak "Nama adalah Doa orang tua" cuz Orang tua jawa jaman dulu apalagi yang awam tentang agama lebih mengedepankan wangsit ketimbang doa. Tapi judul album Peterpan "Sebuah Nama Sebuah Cerita", mungkin pepatah yang tepat buat my familiar name "ABENK" yang belum sempat di bubur merah-bubur putihkan.
Hmmm andai saja seluruh pejabat negeri ini diberi keanehan seperti Abenk kecil, mungkin tak akan ada korupsi (Sambil bertopang dagu, red)
“kok panggilanmu abenk sih?”
Terkadang tiba-tiba keluar dari mulut fans gw yang keheranan kalau sudah tahu nama asli gw sebenarnya. Ya, gw juga bingung kenapa nama itu lebih popular ketimbang “Agus Waluyo” yang notabene nama bawaan sejak orok. Sejak SMP, gw sudah dipanggil teman-teman seangkatan gw dengan sebutan yang kereen itu
Baiklah, akan kuuraikan kisah singkatnya “Just 4 Smile”.
Gw sebenarnya terlahir dengan nama full Agus Dimas Waluyo Hasan Sanapi, “Agus” bukan diambil dari nama bulan dimana gw dilahirkan cuz gw lahir bulan April, entah darimana Alm. babeh dapet inspirasi, “Dimas” itu lawan kata dari Nyimas, yaitu panggilan ningrat yang artinya anak laki-laki yang bagus, baik, ramah, dan rajin menabung, berharap gw keturunan Brama Kumbara atau Nyai Mantili, Kalau “Waluyo”itu singkatan Wage Wolu Loro (Hari Wage 82) yang artinya Hari wage tahun 82 dan sisanya itu, adalah nama belakang Babeh yang ikutan diembel-embelin.
Dengan nama itu gw dianugerahi kekurangan yang kalau gw sadari sekarang adalah sebuah keunikan dari Tuhan, yaitu gw paling takut sama yang namanya “UANG”, memang terdengar aneh, uang dimata gw waktu itu seperti kumpulan bakteri-bakteri yang saling berangkulan dan mengeluarkan bau amis dan bikin mual. Entah apa penyebabnya, waktu itu gw masih terlalu mungil untuk mempertanyakan hal tersebut, kemungkinan jaman dulu uang yang selalu gw pegang-pegang kebanyakan uang logam kembalian dari tukang ikan yang basah, tangan orangnya berdaki, berminyak, berlendir ampe kapalan.
Hingga kelas empat SD gw menjalani keanehan tersebut, dan saat itu gw bener-bener merasakan "betapa nggak enaknya nggak bisa megang uang" (seperti kata pejabat-pejabat jaman sekarang...). Ketika lonceng istirahat berbunyi "teng, teng, teng!" dimana teman-teman gw jajan, gw Cuma bisa duduk-duduk ngobrol , bermain dan terkadang sesekali ngiler memandangi mereka makan dan minum, biarpun begitu gw tetap menjadi anak kecil yang ceria menjalani hari-hari disekolah, dan tercatat selalu masuk The Big Three (ge-er mugholazoh! Alias Narsis abis). Sampai-sampai Kebiasaan jarang makan itu terbawa hingga sekarang, yaitu gw paling jarang makan siang sejak SD dulu. Gw lebih mengenal Makan besar di pagi dan Sore hari. Pagi, nasi warteg serantang sama oreg-oreg dan sambel goreng kentang, sore hari hajar lagi sama nasi dua pincuk plus ayam bakar, plus tempe bakar plus ati ampela goreng ama sambel dan lalapannya (begitu contohnya). (Yang begitu kau bilang jarang makan?)
Keunikan gw tersebut ada untungnya juga buat emak gw, karena tiap hari gw nggak pernah minta uang jajan kalau pergi ke sekolah. Tapi mungkin ada ketakutan juga dalam diri emak gw, gimana kalau gw besar nanti?, gimana caranya bisa nyari duit?, gimana bisa ngidupin anak istri? dll…. Ketakutan emak itu membawa gw menemui orang pintar bertitle Haji di kampung kelahiran gw, sampai akhirnya Pak Haji memvonis kalau gw kelebihan beban pada nama alias keberatan nama, Sambil diberi air minum yang sudah diberi doa-doa, beliau menyarankan agar nama gw dikurangi, dan akhirnya melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang dan wangsit yang menurut Pak haji terima, dipenggallah namaku hingga tersisa dua suku kata “Agus Waluyo”. Padahal, seandainya saja waktu kecil gw udah paham masalah magic itu, gw minta yang dipenggal jangan “Dimas”nya tapi “Agus”nya aja yang terlalu market-an.
Dan Doa-doa pak Haji sepertinya sangat manjur, nggak tahu sugesti, hipnotis atau jalan Tuhan, yang jelas habis malam berobat, bangun tidur pagi-pagi, mandi, dandan, berangkat sekolah dan “Mak…mana uang sakunya”. Nggak tahu gimana perasaan emak gw waktu itu, saat itu gw nggak paham apa yang terjadi, keanehan itu benar-benar hilang bagai ditelan bumi.
Ketika duduk dibangku kelas 1 SMP, nggak tahu kenapa perasaan risih dan males kalau dipanggil dengan sebutan “Agus” muncul begitu saja, dikelasku ada 3 nama Agus yaitu “Agus Sugianto, Agus Purwanto dan of course Si Murah Senyum “Agus Waluyo” (piss!). Ketika salah satu teman ada yang memanggil “Aguuuuus!!!”, menengoklah kami bertiga (100% Be-Te). Itu baru satu kelas doang, belum lagi kalau dijumlahin satu SMP, satu kampung, satu angkot plus satu pasar. Apalagi kalau gw iseng-iseng buka phonebook di Yellow Pages, gw Cuma bisa geleng-geleng kepala. Sampai Akhirnya gw sepakat sama temen segenk SMP, kalau kita harus punya panggilan-panggilan aneh waktu itu. Sepakatlah kita segenk besar punya nama-nama panggilan gaoool gitu dech, ada “Kumel” (Yanto), “Ajay” (Nurjaya), “Kuplax” (Jamal), “Ceker” (Bambang), “Bandi” (juwandi), “Demblo” (Ade G), “Tompel” (Mamat), “Dopar” (Mudofar), dan masih banyak lagi. Pokoknya aneh-aneh tapi tetap punya arti tersendiri. Dan giliran gw di dampratlah dengan julukan “Abenk”, alasannya sih karena gw sering nunggu dan turun angkot depan bengkel, jadi dipadatkanlah menjadi Abenk (Anak depan Bengkel). Awalnya Aneh juga dengernya, gw minta ganti huruf B-nya dengan huruf G biar agak kerenan dikit, tapi malah dibilang udah banyak yang pake nama itu. Haduh mau gimana lagi…..padahal gw berharap bisa dipanggil David, Thomas, atau Chiko gitu. Tapi apa daya komentar gw ditanggapin tapi tidak dianggap, alias temen-temen menerima tapi tetap saja mereka memanggil gw dengan sebutan ABENK. Mau nggak mau gw harus nengok.
Menginjak SMU ampe kuliah panggilan itu terus digunakan, berhubung ada temen genk yang selalu saja satu sekolahan dan satu kampus. Siklus yang gw sadari adalah sebatas itu, selanjutnya entah gimana pola rantainya sampai hampir 95% temanku lebih nyaman memanggilku ABENK. Yah, Abenk Si Blacksweet Limited Edition.
Whatever-lah anda mau memanggilku apa, mau Agus, Abenk, Thomas, David, Chiko, Adly, atau apalah mboten nopo-nopo cuz seperti Pepatah "Apalah artinya sebuah nama". Dan sepertinya, Namaku juga tidak mempunyai makna yang mendalam seperti kata-kata bijak "Nama adalah Doa orang tua" cuz Orang tua jawa jaman dulu apalagi yang awam tentang agama lebih mengedepankan wangsit ketimbang doa. Tapi judul album Peterpan "Sebuah Nama Sebuah Cerita", mungkin pepatah yang tepat buat my familiar name "ABENK" yang belum sempat di bubur merah-bubur putihkan.
Hmmm andai saja seluruh pejabat negeri ini diberi keanehan seperti Abenk kecil, mungkin tak akan ada korupsi (Sambil bertopang dagu, red)
Sabtu, 24 Juli 2010
28 Tahun Welcome...Gw Matang Gonad.
Setahun sepertinya bukanlah waktu yang lama, dan sepertinya tahun demi tahun gw lewati tanpa terasa, rasa-rasanya baru kemarin gw merasakan umurku ganjil 27 tahun, kini sudah nambah satu tahun lagi. Dan rasa-rasanya baru kemarin gw mencukur bulu gw dimana-mana, kini sudah tumbuh lagi (Kalimat error!)
Usia 28 tahun sepertinya usia yang kata orang sangat pas untuk memulai sebuah kehidupan yang orang menyebutnya sebagai pernikahan. Ibarat Hewan laut si “Bulu Babi” kalau dalam istilah perikanannya adalah sudah matang gonad alias sudah siap membuahi. Waduh, kok gw disamain sama ikan.
Masalah kawin, memang sekarang sudah mulai masuk dalam daftar List My Hope yang gw simpen di Note Handphone gw, selain Rumah dengan kolam ikan Koi yang besar, Restoran Pecak Lele Nyokap, Tanah, Stasiun Radio ZonaMuda FM, Mobil Avanza second, HP Nexian terbaru dan Lampu emergency untuk di kostan yang sering mati lampu.
Memang dalam List My Hope gw itu, sepertinya Cuma kawin yang bisa masuk di akal dan bisa diwujudkan secepatnya tanpa harus mengeluarkan modal dan biaya yang cukup besar. Tapi apa mau sayangKu nikah Cuma modal akad doang tanpa resepsi?. (Ciah…sayangku…:-)).Perjalanan gw sebagai seorang manusia ganteng di muka bumi ini masih panjang dan harus gw tempuh dengan Spirit and Never give up, entah sampai kapan, Only God Knows.
28 tahun, gonadku matang, birahi memuncak, pengen khawin, fikiran ruwet, beban hidup yang makin berat, pekerjaan yang monoton, perekonomian bagi rata, adek yang pada pengen kuliah, bokap almarhum, kreditan belum lunas, inget nyokap sendirian di kampoong, abang gw pengangguran, udah lama gak ziarah, akh…..semua fikiran tersebut mewarnai hari-hari gw. Selamat datang 28 tahun, life is beautiful, love is beautiful and money is beautiful, and No Money No Happy. (Dasar Matree!).
Di Simpang Jalan

Setiap hari, setiap pagi, setiap sore, setiap Senin sampai Juma’t sampai ketemu Senin lagi, gw mondar-mandir Bogor-Cibinong-Cibinong-Bogor mirip setrika arang. Bedanya kalau setrika mulutnya yang mancung, sedangkan gw hidungnya yang mancung, lainnya semua sama, yaitu item, panas, gerah, berdebu dan berasap. Selain kepanasan, Kadang kehujanan, kadang keanginan (keanginan sudah pasti!), pinggang encok, pundak rematik, paha keram juga mewarnai perjalanan keseharian gw dalam mencari sesuap nasi.
Jarak Kontrakan – Kantor atau sebaliknya, yang hampir mencapai 21 km, biasanya gw tampuh dalam waktu 45 menit, paling cepat 30 menit. Terkadang waktu tempuh bisa mencapai 1 jam lebih jikalau sedang terjadi kemacetan parah dibeberapa titik persimpangan di sepanjang jalan Bogor – Cibinong yang gw lewati. Gw merasa jalan raya menjadi semakin sempit saja dan setiap kendaraan saling berusaha untuk menerobos kemacetan itu dengan saling berebut peluang, mirip sekali dengan tingkah laku gerombolan semut yang lagi pada rebutan tahi cicak (Semut yang aneh..?). Waktu tempuh tersebut belum ditambah dengan waktu berhenti di Lampu Merah, mampir di Pom Bensin, atau sekedar nambal ban motor yang suka nyium paku. Kalau dihitung-hitung, bolak-balik tersebut bisa menghabiskan 1 liter bensin perhari.
Dalam pandangan mata gw yang mirip biji jengkol, di tengah hiruk pikuk kehidupan jalanan yang panas dan berdebu, ternyata tetap ada yang menjadikannya sebagai ladang untuk mencoba mengais rezeki. Pengemis, pengamen dan pedagang asongan memang umum mewarnai riuhnya persimpangan jalan atau lampu merah. Mereka berpacu dengan debu yang menderu, asap yang merebak dan suara klakson yang menggonggong.
Sepanjang jalan, mau tidak mau gw selalu mengamati tingkah laku mereka, dan semakin mata gw mengamati, semakin gw tahu betapa hidup memang harus disyukuri.
Jumat, 23 Juli 2010
Jamban vs Avatar (Tragedi Jamban Modern Season 2)

Sekarang bukan cuma Cinta Fitri doank yang punya season, Tragedi Jamban juga punya season. Memang kalau Ngomongin soal Jamban, nggak pernah ada habisnya. Banyak hal yang bisa digali dari sebuah jamban (Kayak Lubang hidung aje digali…). Selain sebagai tempat semedi, tempat menyusun strategi dan tempat berkhayal, Jamban juga dijadikan sebagai tempat yang bisa mendatangkan inspirasi. Bahkan seorang movie maker sekelas Hanung Bramantyo bisa jadi sering mendapatkan inspirasi dari dalam sebuah jamban. Perhatikan saja judul –judul filmnya Jamban-Jamban Cinta atau Perempuan berkalung Jamban (Ha..ha..Piss mas Hanung…), yang bener adalah Ayat-ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban.
Dan Kalau ngomongin soal jamban, secara sadar pikiran kita akan diingatkan pada sebuah warna yaitu kuning, Kuning is jamban, Jamban is kuning begitulah kira-kira, seperti kalimat yang kerap keluar dari mulut para pujangga cinta “Wajahmu indah laksana kuning-kuning di antara jamban, kulitmu kuning bagaikan bunga jamban, atau Kuning hatiku terombang-ambing seperti jamban di lautan (itu sampan!)”. Bahkan dari dalam jamban, sempat muncul inspirasi gw untuk menulis novel-novel dengan judul, Ku tunggu kau di Seberang Jamban, Biarkan Jamban berbicara atau Cintaku bertepuk sebelah Jamban. Sepertinya novel itu bakal menjadi pesaing berat buku “Gurita Cikeas”.
Tapi Lupakan semua itu, karena gw menulis kembali tentang jamban bukan mau mengulas habis jamban beserta isi-isinya, tapi karena lagi-lagi, gw ketiban sial di dalam sebuah jamban, tentunya jamban modern alias Toilet. Dan kali ini kejadiannya bukan di jamban dengan fasilitas closet jongkok atau jamban jongkok, tapi disebuah Jamban generasi kedua yaitu Jamban dengan fasilitas closet Duduk, gw menyebutnya jamban duduk. Jamban temuan orang barat ini memang sempet bikin otot paha gw meringkel-ringkel. Meski gak sampai salah urat, tapi cukup membuat jalan gw tertatih-tatih karenanya.
Sabtu pagi. Gw memenuhi permintaan adik gw yang minta jalan-jalan ke puncak dan pulangnya mampir dulu ke salah satu mall di Bogor buat nonton AVATAR. Ya, sebuah film percintaan manusia kucing di Planet Pandora yang katanya jempol Tenan…, sekalian buat ngebantu refreshingin otak adik gw sebelum menghadapi Ujian Akhir Semester. Untuk menghindari kemacetan dan pengen ngelihat sunrise di balik bukit kebun teh, Sehabis subuhan Berangkatlah kita dengan berkendaraan Si Biru Supra-X ku yang mesinnya sudah mulai turun berok. Selama berkendaraan menuju puncak, naik sampai turunnya lagi, gw bener-bener ngerasa fit, Tak ada yang aneh atau mengganggu gw selama perjalanan. Pokoknya mulai dari penampilan, gaya, tenaga, sampai persiapan mulai dari tameng angin, sepatu kets, mineral water, isi dompet, semuanya dalam kondisi on and ready to go…apalagi masalah perut, subuh-subuh sudah ku ganjal dengan roti coklat sarikaya yang gw beli di toko 24 jam. Jadi semuanya baik-baik saja, adem, tentrem, gemah ripah, LohJinawi.
Pukul 10.30 menjelang siang, tibalah kita di sebuah mall yang sudah direncanakan. Si Biruku sudah ku istirahatkan di tempat yang aman dan sesaat selesai memarkirkan motor kesayanganku itu, perut gw tiba-tiba kerasa melilit dan kembali rectum gw dibikin antap-untup menahan ampas makanan itu, mungkin ini gejala alergi orang yang gak punya duit tapi belaga masuk mall. Ujung-ujungnya, tujuan pertama gw setelah melewati bom detector petugas pintu mall, bukannya ke gramedia atau makan di food court, tapi gw malah melesat secepat kilat kearah Toilet yang sudah sangat gw rindukan.
Oh jamban…I miss you so much!, Gw tinggalkan adikku di First Floor sebentar. Dan sesampainya di toilet, gw bukannya semangat buat segera mencari Posisi Uwenak, disitu gw malah dibikin males buang air (singkatnya pengen buang air tapi males jongkok), cuz kenapa? karena gw melihat ke empat jamban yang tersedia didesain menyerupai bangku tukang mie ayam semua, yah…semuanya jamban duduk :-(. Kenapa sih nggak disediain Jamban jongkok?, especially buat wong ndeso kayak gw yang nggak biasa pakai Jamban duduk. Gw akui, Kebiasaan orang kota yang sampai sekarang nggak bisa gw ikutin yaitu buang hajat dengan gaya duduk di Jamban duduk. Memang katrok sih, tapi realitanya posisi jongkok lebih menentramkan jiwa ketimbang duduk, cuz gw ngerasa rectum gw seperti paralon yang mengalir plusnong dengan mudahnya, sementara posisi duduk gw merasa rectum gw dibekap oleh cuby-cuby gw (b*k*ng, red).
Hasrat dan nafsu mengalahkan malu, lalu timbul sikap menghalalkan segala cara. Mungkin itu kalimat yang tepat saat gw berada pada posisi kebelet. Bagai telur di ujung tanduk, di tahan nggak kuat, dikeluarkan juga nggak nyaman. Akhirnya demi ketenangan jiwa, raga dan AVATAR, gw terpaksa ulangi kebiasaan inappropriate gw alias nggak tau aturan yaitu jongkok di closet duduk, dengan telapak kaki yang harus kuat dan sabar bertengger di pinggiran closet yang lebar alasnya cuma 3 centimeteran, bener-bener kram dibuatnya. Untunglah Sepatu Kets yang gw pake cukup membantu pijakan kaki gw. Tapi karena memang sudah jalannya mau sial, saat hendak nyari posisi uwenak, Tiba-tiba Kedubrak !!! (Suara tutup closet), pijakan kaki kiri gw tiba-tiba Slip ke arah luar, sampai-sampai dengan posisi duduk badan gw hampir nyemplung ke kubangan closet dan bagian bawah paha kiri gw yang montox membentur bagian tepi closet itu. Dengan bobot badan gw yang hampir super duo jumbo (udah super…,duo…,jumbo lagi..!?), cukup sakit juga otot paha gw menahan beban seberat itu. Dalam rintih kesakitan itu, gw tetap sabar bertengger di jamban itu, cuz satu glondongan hajat pun masih belum ada yang keluar dari rectum gw. Niatan gw sih cukup satu cetakan saja, abis itu udahan. Karena biasanya rasa kebelet E-E itu disebabkan cetakan hajat pertama (Duh nggak penting juga ya ngomongin dodol nanas itu..!?).
Di dalam jamban itu boro-boro gw menghayal jadi penyiar radio, karena terlalu pegel menahan keram dan kesemutan. Selain nggak nyaman, di tambah lagi setiap beberapa detik gw harus menembakan air ke closet sebagai penanada kalau di dalam toilet lagi ada orang. Karena syerem juga kalau Cleaning service seenaknya mendorong pintu, melongok dari atas pintu atau menyodokkan kain pelnya dari bawah pintu yang longgar, karena tidak melihat adanya kaki dalam toilet tersebut. Of course karena kaki gw sedang dalam posisi nangkring di jamban yang tingginya hampir 50 cm itu.
Jadi, Jangan salahkan daku jika aku tak bisa menjalan perintahmu wahai jamban, di balik pintu engkau sudah memampang dengan jelas “DILARANG MENAIKI CLOSET”, Tapi apa daya. Ini masalah hidup dan mati gw. Seperti kata kang Adolf Hitler “Sehebat-hebatnya seseorang, dia tidak akan sanggup melawan rasa kebeletnya”. Jadi maafkanlah daku wahai Jamban, Just One Minute…demi Avatar.
Langganan:
Postingan (Atom)
