
Setiap hari, setiap pagi, setiap sore, setiap Senin sampai Juma’t sampai ketemu Senin lagi, gw mondar-mandir Bogor-Cibinong-Cibinong-Bogor mirip setrika arang. Bedanya kalau setrika mulutnya yang mancung, sedangkan gw hidungnya yang mancung, lainnya semua sama, yaitu item, panas, gerah, berdebu dan berasap. Selain kepanasan, Kadang kehujanan, kadang keanginan (keanginan sudah pasti!), pinggang encok, pundak rematik, paha keram juga mewarnai perjalanan keseharian gw dalam mencari sesuap nasi.
Jarak Kontrakan – Kantor atau sebaliknya, yang hampir mencapai 21 km, biasanya gw tampuh dalam waktu 45 menit, paling cepat 30 menit. Terkadang waktu tempuh bisa mencapai 1 jam lebih jikalau sedang terjadi kemacetan parah dibeberapa titik persimpangan di sepanjang jalan Bogor – Cibinong yang gw lewati. Gw merasa jalan raya menjadi semakin sempit saja dan setiap kendaraan saling berusaha untuk menerobos kemacetan itu dengan saling berebut peluang, mirip sekali dengan tingkah laku gerombolan semut yang lagi pada rebutan tahi cicak (Semut yang aneh..?). Waktu tempuh tersebut belum ditambah dengan waktu berhenti di Lampu Merah, mampir di Pom Bensin, atau sekedar nambal ban motor yang suka nyium paku. Kalau dihitung-hitung, bolak-balik tersebut bisa menghabiskan 1 liter bensin perhari.
Dalam pandangan mata gw yang mirip biji jengkol, di tengah hiruk pikuk kehidupan jalanan yang panas dan berdebu, ternyata tetap ada yang menjadikannya sebagai ladang untuk mencoba mengais rezeki. Pengemis, pengamen dan pedagang asongan memang umum mewarnai riuhnya persimpangan jalan atau lampu merah. Mereka berpacu dengan debu yang menderu, asap yang merebak dan suara klakson yang menggonggong.
Sepanjang jalan, mau tidak mau gw selalu mengamati tingkah laku mereka, dan semakin mata gw mengamati, semakin gw tahu betapa hidup memang harus disyukuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar