
Anda kekurangan serat? Wasiran? Susah BAB atau mungkin sekedar ingin melancarkan sistem pencernaan? manfaatkan buah yang satu ini untuk memperbaiki kondisi serat dalam tubuh anda. Anda bisa puas-puasin memakannya sekilo perhari, 2 kilo perhari atau mungkin sebakul perhari, terserah perut anda. Jangan khawatir.., harganya tidak akan merobek kantong anda apalagi sampai menyayat-nyayat dompet anda, atau memutilasi keuangan anda, karena sekarang memang waktunya Musim mangga.
Buah yang mirip hidung Gareng ini memang lagi musim sekarang, harganya benar-benar lagi ngedrop alias murah banget. Mulai dari 3000/kg sampe 6000/kg, bahkan ada yang menjualnya dengan sistem obral Rp.10.000/3 kg. Bayangin dengan 10.000 rupiah saja anda sudah bisa mendapatkan 12 butir mangga ukuran standar, dan tentu dengan rasa yang lumayan manis, asem, seger jadi satu. Entah apa yang membedakan harga-harga tersebut, tapi kalau gw perhatiin di toko buah, makin matang mangganya makin murah harganya (dalam tanda kutip mengarah ke busuk). Mangga dengan kondisi begini yang biasanya di obral, beda banget sama buah duren yang makin matang makin mahal (Ya Jelas…toh!).
Atau jika anda ingin lebih murah lagi, Datang aja langsung ke petaninya di Indramayu, disana gudangnya semua jenis mangga. Anda bisa beli sekarung dengan harga ekonomis, langsung dari kebunnya (mentah, plus manjat sendiri), paling-paling tambah ongkos perjalanan 100.000 rupiah buat bolak-balik ngelewatin jalur pantura kalau anda dari Jakarta. Ya..sekalian jalan-jalan kesana, melihat indahnya pantai Eretan yang pasti anda be
lum tahu, sambil makan Bandeng bakar, ditambah dengerin lagu-lagu goyang tarling pantura. Atau bisa juga sekedar maen dan berenang di the bigest of waterboom in west java "kali Cimanuk", pasti seru… (Lagi kesurupan hantu duta wisata, red).Kalau lagi musim mangga begini, dimanapun ada toko buah pasti disitu ada mangga. Harum manis, Manalagi, dan Indramayu adalah jenis dominan yang bisa dengan mudah kita jumpai di pasar-pasar, di toko-toko buah atau di supermarket. Nama jenis mangga yang gw sebut terakhir tadi adalah di ambil dari nama daerah dimana gw mbrojol, dan mangga ini banyak menjadi buah bibir karena rasanya yang unik dan berbeda (ge-er..).
Senang rasanya kalau nama kota kelahiran kita jadi booming dimana-mana. Meski Cuma berupa tulisan “Mangga Indramayu 4000/kg” yang dipampang ditrotoar atau di sela-sela toko, atau mungkin teriakan si abang penjual di pasar-pasar “ Ayo-ayo Indramayu yang asli, yang manis, 10.000 - 2 kilo”. Tetep ada kebanggan tersendiri dalam diri gw.
Ada yang bilang mangga Indramayu itu crunchy, sematang-matangnya itu mangga kalau dimakan tetap ada rasa-rasa gurih krekes-krekes yang berbeda dengan mangga lain. Dan memiliki rasa yang mak nyus katanya. Ada juga yang bilang mangga Indramayu itu memiliki daging yang tebal dan biji yang kecil seukuran 9 kecoa berpelukan. Tapi sepertinya semua pendapat itu hanya berlaku buat gw yang biasa makan buah mangga hasil panen sendiri di pekarangan rumah. Karena buahnya di panen tepat waktu alias bener-bener tua dan proses pematangan alami tanpa peraman karbit. Berbeda dengan mangga yang gw coba-coba beli di pasar. Agak asem, masih belum terlalu tua (terlihat dari warna kulit, aroma, dan penampakan bijinya yang putih) dan tentu saja hasil peraman si karbit yang membuat warna mangga jadi kuning menggoda.
Sebagai orang yang terlahir di bawah pohon mangga (eh, di kota mangga maksudnya), nggak ada yang spesial sebenarnya dari buah mangga Indramayu, apa karena gw udah bosen dari dalam kandungan udah di cekokin buah mangga ama emak gw waktu ngidam, atau karena gw anak juragan kebon mangga?. Bahkan gw juga nggak tahu sejarah asal muasalnya bisa ada nama jenis mangga yang di ambil dari nama tanah kelahiran gw itu. Dari kecil, gw tahunya mangga itu bernama “Mangga Cengkir”, bahkan sebutan ini juga sampai ke Subang dan Cirebon. Gw baru tahu kalau mangga itu disebut Mangga Indramayau setelah hijrah ke Bogor 9 tahun lalu. Menjadi nama Mangga Indramayu apa karena mangga ini memang pertama kali ditemukan di Indramayu atau hanya tumbuh subur di Indramayu?. Orang tua gw juga nggak pernah ngasih Bed time Story tentang buah mangga.
Dan Setahu gw sejarah Indramayu itu di ambil dari nama seorang Nyai, bernama Endang Dharma Ayu dengan kisah cintanya bersama seorang pangeran, Wiralodra namanya. Dan disana juga tidak disebutkan si Nyai ngidam mangga muda atau pangeran punya kebon mangga, hobby makan mangga, atau menikah dengan mas kawin biji buah mangga.
Entah bagaimana sejarah detilnya, tapi yang jelas Indramayu sudah di juluki sebagai kota mangga, mangga jenis apapun bisa tumbuh dengan baik disana, bahkan kalau anda jalan-jalan ke kotanya anda akan melihat sebuah menara (tugu kale…(lebay!)) yang memasang patung buah mangga besar yang menjadi kebanggan warganya.
Kebanggan warga Indramayu mungkin sama seperti yang di rasakan yang punya Apel Malang, Jeruk Medan, Jeruk Bali, Duku Palembang, Talas Bogor, dan Gajah Lampung (sory ini kategori buah, jadi gajah gak termasuk...!).
Ada sedikit tips buat anda yang mau ngeborong mangga,
1. Pilih buah yang memiliki tekstur yang masih padat, tidak benyek dan tidak memar-memar (karena jatuh, keinjek-injek atau kegencet-gencet).
2. Perhatikan warna kulit buah khususnya pada bagian ujungnya, jika hijau pudar pertanda tua. (Jika beruban dan ompong juga…, itu kakek-kakek bung!)
3. Aroma buah tidak menyengat seperti lebah, jika menyengat biasanya masih terlalu muda.
4. Sisa-sisa tangkai yang terlihat pada pangkal buah agak terlihat masuk kedalam buah. Dan tentu masuknya nggak sampe tembus ke dalam bijinya.
5. Dari dalam buah, biji tidak berwarna putih. Biasanya mengarah pada warna kusam. Tapi kalo anda menemukan kondisi mangga berbiji putih tapi rasa lumayan manis, berarti anda beruntung.
Mari perbaiki kesehatan pencernaan tubuh anda dengan mangga, BAB lancar serasa longgar!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar