Sabtu, 17 Juli 2010

Lensa (Detik-detik Berkacamata) Part II

Tak puas dengan jawaban dokter yang only “Turn the right and turn the left of the head” alias geleng-geleng kepala mengenai pertanyaan gw tentang mata minus apakah bisa sembuh, malah bikin gw penasaran. (Sampai saat ini gw masih kepikiran bahasa inggrisnya geleng-geleng kepala, apa itu bener ya? Atau mungkin triping, shake of the head, atau ajeb-ajeb?).
Dancing Terd
Sebuah wejangan “Setiap penyakit pasti ada obatnya” menjadi penyemangat gw dalam mencoba mencari penyembuh entah berupa obat, tips, atau petunjuk-petunjuk yang paling tidak mengembalikan semangat dan percaya diri adek gw. Apalagi setelah dia melihat langsung bahasa isyarat dari dokternya yang menyatakan mata minus sulit untuk disembuhkan, mungkin prosentasi Pe-De nya yang hilang makin bertambah. Gw cuma bisa memberi nasehat untuk selalu bersabar dan bersyukur, bersyukur masih bisa melihat, bersyukur minusnya masih kecil, dan bersyukur punya kakak yang mirip Adly Fairuz kalau dilihat pake kacamata. (Yang sentiment biasanya nambahin “ngelihatnya pake sedotan, trus dilihatnya dari puncak Monas”, dasar Narsis!). Gw memang mirip ama Adly Fairuz tapi Adly Fairuz versi penyok yang kebanyakan makan dan bejemur (gemuk dan item, red), mirip kue rengginang ketan item. Puas!! (Kenapa jadi banding-bandingin gw ama Adly Fairuz ya?)

Atas saran dari ibu dokter tercinta untuk segera membeli kacamata sesuai dengan minus matanya, keluar dari rumah sakit gw langsung menjelajahi beberapa Toko Optik di kawasan sepanjang jalan Merdeka, Taman Topi, dan Surya Kencana – Bogor. Gw sempet nanya sama dokternya tentang dimana toko kacamata yang bagus, tapi jawaban dokternya lagi-lagi kurang memuaskan, kata-katanya yang keluar dari mulutnya kalo ditaker cuma segede upil, dia cuma bilang “Banyak kok…”. (Nih bu dokter hidupnya berasa artis kali ya? Ngomongnya mahaaaal banget).

Sebenarnya ini pengalaman pertama gw nguber-nguber toko optik. Ada perasaan khawatir kalau gw nanti ketipu gara-gara gw nggak ngerti masalah kacamata. Pikiran yang mengganggu gw, jangan-jangan pembuat lensanya kurang ahli, plus minus lensanya kurang pas, jangan-jangan harganya dimahalin, jangan-jangan kualitas framenya mudah berkarat, jangan-jangan framenya terbuat dari kawat kiloan atau Jangan-jangan kaca yang dipake sisa-sisa pecahan kaca nako. Waduh…

Keluar dari rumah sakit sekitar jam 7.40 pagi. Sepagi itu, beberapa toko optik masih belum pada buka. Sementara gw juga harus buru-buru ke kantor. Jadi senemunya optik yang buka aja gw datengin.

Berhenti di toko yang pertama, kulihat stoknya cuma sedikit dan model framenya juga sebagian besar kurang cocok dengan bentuk muka adek gw yang agak kotak-kotak gimana... gitu (please, jangan bayangin bentuk muka adek gw mirip bungkusan nasi kotak), padahal kulihat sepanjang dinding dari pintu masuk sampai ke dalam toko terpampang wajah-wajah artis jaman Firaun angkatannya Dessy Ratnasari, Diana pungky, ampe Paramitha Rusady yang pada berpose close up miring berkacamata, bener-bener apa yang dipajang di dinding tidak sepadan dengan koleksei frame yang ada di etalase. Gw bener-bener berasa beli kacamata di era ABGnya emak gw (entah kenapa, wajah-wajah artis yang dipampang bukan wajah artis yang masih fresh gitu? Luna Maya kek, Cut Tari kek, atau Mpok Nori mungkin (khan masih eksis juga dia?)). Karena tak ada satupun model frame yang adek gw suka, kita langsung pamitan ama pelayan tokonya.

Kemudian di toko kedua koleksinya idem sama toko yang pertama. Dan terakhir, singgahlah kita di toko ketiga yang menjadi toko tempat kita memesan akhirnya. Toko ini memiliki koleksi frame yang cukup banyak dan variatif dengan model-model yang masa kini dan nggak masa gitu, pokoknya hampir semua model kacamata ada di sana, mulai dari kacamata Harry Potter sampai kacamata Ian Kasela ada juga disana. Tinggal pilih, tapi jangan sekali-kali anda memesan kacamata tukang las disini. (Sebenarnya harapan gw sih nemu toko yang bisa beli satu dapat dua, (emangnya kue serabi?))

Pilihan kita pada toko terakhir sepertinya nggak salah, di dalam toko itu adek gw dipuji-puji terus sama pelayannya pas nyoba-nyoba frame. Dibilang cantik lah, dibilang anggunlah, dibilang cocoklah buat jibaber, di bilang mirip Zaskia Mecca lah (kalo yang ini bukan pelayannya yang ngomong..) (Lu tu ya… artis satu RT disebut semua, semuanya lu mirip-miripin sama lo ampe nenek moyang lo, trus artis siapa lagi yang mau lo sebut?). Yang jelas pujian-pujian itu membuat adek gw semangat mencoba satu demi satu freme yang ada di etalase.

Setelah dapat model yang cocok, akhirnya kita pesan. Ternyata gw baru tahu kalau harga frame itu lebih mahal dibanding lensanya. Dan gw juga baru tahu kalau harga lensa ditentukan berdasarkan range (baca : renje) angka minusnya. Makin tinggi minus plusnya makin mahal harganya. Kok bisa gitu ya? Padahal kita nggak tahu kaca apa yang pake buat dijadiin lensanya. Mudah-mudahan bukan sisa pecahan botol kecap.

Kacamata sudah kita pesan, dalam waktu sehari kacamata itu sudah jadi, berarti besoknya bisa gw ambil. Sebuah pengeluaran yang tak terduga hari itu, cuz harganya cukup menguras kantong gw ampe lumut-lumutnya.

Sepanjang jalan menuju pulang ke kosan, pertanyaan “masa iya sih mata minus nggak bisa disembuhin?” masih membenak di jaringan otak sebelah kiri gw. Kalau sudah nyampe kantor nanti, gw mau mengobati rasa penasaran gw dengan berkonsultasi sama Mbah Google (www.google.com, red)

Di kantor, saat hendak konsultasi dengan Mbah Google, gw harus antri dulu sama temen sekantor yang juga butuh konsultasi (internetan, red). Cuz diruangan kantor gw cuma ada SAKOME (Satu komputer rame-rame). Sambil menunggu, gw siapain beberapa kata kunci yang nantinya gw search.

Kata kunci pertama “Menyembuhkan Mata Minus”. Bret…!, sejumlah artikel-artikel muncul pada list Mbah google, gw coba klik link pertama munculah sebuah nasehat dari dokter mata yang menyatakan “Cara termudah untuk menjaga agar mata minus tak kian bertambah adalah banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung lutein. Lutein banyak terkandung pada sayuran berwarna hijau. Lutein sangat diperlukan retina sebagai filter terhadap sinar biru yang toksik terhadap makula retina mata. Selain itu ada baiknya Anda juga mengkonsumsi makanan bervitamin A dan beta karoten seperti wortel dan ubi. Banyak-banyaklah konsumsi sayuran, selain Anda mendapatkan manfaatnya bagi mata baik juga untuk tubuh dan kulit”. Habis baca artikel ini Gw jadi teringat sama pola makan adek gw yang carnifora (non-vegetarian kali?), dan memang yang namanya sayur-sayuran dia itu paling Say No!, tapi kalau yang nyuguhin sayurnya Ridho Rhoma, itu lain lagi ceritanya (Tetep ya?).

Link berikutnya, terlihat sepertinya sebuah forum yang memang lagi membahas masalah mata minus. Diujung bagian atas halaman terlihat ada anggota forum yang menanyakan gimana caranya menurunkan minus pada mata, jawabannya aneh-aneh. Ada yang bilang makan aja wortel setiap hari, terus ada yang ngebantah itu cuma mitos, makan wortel satu truk pun mata minus tidak akan sembuh, yang ada lu bakal masuk rumah sakit.

Kemudian ada yang mengajak terapi embun pagi, tapi ribetnya minta ampun, harus dihalaman terbukalah, yang sepi dan tenanglah (katanya biar nggak disangka orang stress), siapin baskomlah buat nampung air embun (bujuuug, gimane ceritanye tuh?). Ada lagi yang bilang pijat refleksi atau pengobatan alternative (yang ini agak ngena di otak gw, sempat terlintas gw jadi pengen ikutan ketik REG JENENG, tapi apa hubungannya ya ama mata minus?).

Terus ada lagi yang menyarankan SENAM MATA, disitu dijelaskan secara detil setiap gerakan mata selama terapi mulai dari pandangan lurus ke depan, lirik kanan, lirik kiri sampai curi-curi pandang (curi-curi pandang? emangnya lagu dangdut? ), yang jelas kalo gw cerna secara mendalam, intinya cuma ada satu kata yaitu Capedeeeeeh…
:mPeluh:

Hampir semua postingan di forum itu menceritakan pendapat dan pengalamannya. Tapi dari semua itu, gw tetep nggak nutup mata sama ilmu kedokteran, yang menyatakan satu-satunya cara menyembuhkan mata minus adalah lewat jalan operasi, dan tentunya dengan biaya yang mahal dan beresiko tinggi. Haduh….ya sutralah kalau memang faktanya begitu, meski sulit disembuhkan yang penting berusaha dan berdoa.


Saat kacamata sudah selesai di rakit..Ku serahkan kacamata tersebut ke tangan adek gw, tentunya dengan diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan sebuah nasehat, "Nasi sudah menjadi bubur, tinggal gimana caranya bubur itu menjadi enak, disukai dan tahan lama. Seperti kata lagunya Seurieus band “Bubuuur jugaaa manusia, punyaaa rasaaa punya hati, jangan sa...makan denga...n pisau belati….!" (itu Rocker bodoh.. bukan bubur...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar