Minggu, 01 Agustus 2010

Di KeRuBung ApaRat

Entah dilihat dari sisi mana gw terlihat manis, dilihat dari sisi mana gw Nampak mirip artis, sampai-sampai 3 orang polisi, yang dua bertubuh six pack dan yang seorang lagi one pack alias cream-penk ngerubungin gw seperti wartawan ngerubungin ariel peterpan, dilihat dari sorot matanya mereka ngelihat gw seperti melihat lembaran uang kertas yang berterbangan di Jalan RayaBurning Dollar. Ada apa gerangan?

Sebulan yang lalu, tepatnya 4 Mei 2010, dalam suasana terik matahari yang cukup bikin tenggorokan gw dehidrasi. Gw disergap Aparat pemerintah itu seperti seorang curanmor. Gw bener-bener dibuat malu didepan umum.

Seumur-umur gw punya sedan biru (baca : motor biru, red), baru kali ini gw dikatain melanggar aturan lalu lintas sama polisi. Entah dari mana penilaian itu, cuz kesalahan yang gw lakukan sepertinya bukanlah kesalahan yang ekstrim apalagi disengaja melanggar undang-undang. Tapi apa daya, bagi mereka tugas adalah tugas, tilang adalah tilang, dan uang adalah uang. Gak ada toleransi, nggak ada peringatan, nggak ada kompromi, yang ada hanya transaksi rupiah sebagai denda, tawar menawar harga, serasa tukang cabe keriting di pasar Induk. Gw sebagai pengguna jalan raya merasa nggak etis rasanya mendengar komentar dan ocehan mereka yang seperti kaleng kerupuk kosong dipukul ama gagang sapu ijuk (Dong!!!) Alias Bullshit!.
:mRempit:Pagi hari itu gw buru-buru dateng ke sebuah gedung di kawasan Jl. Juanda – Bogor, dimana gw akan di ambil sumpah pegawai sebagai seorang Abdi Negara. Dengan setelan kemeja putih mengkilap yang baru gw beli malam harinya dan celana biru gelap yang gw pake, wusssh! Gw berangkat langsung tanpa memperhatikan kondisi motor gw saat itu. Saking nggak sabarnya gw pengen nunjukin kemeja putih baru gw itu, gw ngebut dan sama sekali nggak merhatiin kalo PLAT NOMOR bagian belakang motor sudah berada dalam posisi ontal-antil alias mau copot gara-gara baut murnya lepas satu.

Beruntung masih ada orang baik dimuka bumi ini, pengendara motor yang nyalip sebelah kanan gw tiba-tiba bilang “Mas, itu platnya mau jatuh”. Mengkhawatirkan memang, kalo sampai plat nomor itu jatuh dan hilang tanpa jejak. Bergegas gw ngerem kepinggiran jalan, dan kutengok benarlah adanya posisi plat nomor belakang memang sudah ontal-antil (kata majemuk jawa). Dan mur bautnya memang sudah mental entah kemana.

Sebagai orang Indonesia yang taat pada budaya Akh, entar aja ah…. Gw langsung copot aja itu plat, gw berencana memasangnya kembali nanti setelah pulang ke kosan. Gw masukin itu plat nomor ke dalam bagasi motor, dan lanjutkan perjalanan .

Siang berlalu, acara sumpah pegawai kelar, tanpa perasaan khawatir apapun, gw tunggangi itu motor hendak menuju ke kantor. Terhentilah langkah sepeda motor gw di Lampu Merah depan Istana Presiden yang letaknya tidak jauh persis dari gedung dimana gw ada acara.

“Mas, Kamu kepinggir! :police:” Tiba-tiba seorang polisi cream-penk yang lagi berdiri disudut lampu merah mendekat ke motor gw yang lagi berhenti, dengan gaya sok megang walkie-talkie.

Tanpa pikir panjang gw langsung menepikan si Biruku itu mendekat ke pos polisi yang memang berada dekat lampu merah. Gw bener-bener jadi Badut Lampu Merah siang itu, jadi tontonan menarik para pengemudi kendaraan yang juga lagi berhenti di lampu merah.

“Mas, tahu kenapa saya suruh minggir” Gw Cuma diam.
“Plat nomor belakang mas nggak ada, jadi mas saya tilang!”

“Pak, saya menyimpan nomor plat itu dalam bagasi, karena tadi pagi sudah dalam posisi mau lepas, sementara saya harus buru-buru”. Gw coba melindungi diri.

Apapun alasannya, Mas sudah melanggar! mana SIM dan STNKnya!”
Siapa sih yang berani nolak polisi? Langsung gw sodorkan juga SIM dan STNK yang diminta.

“Mas Saya tilang!” Si Creampeng mencoba menegaskan.

“Pak, tak perlu ditilanglah…,saya bisa pasang sekarang plat nomor itu”
Si Creampeng Cuma diem sok tegas sambil berkata “Mas ke pos dulu!”. Dia nyuruh gw ke pos yang disana sudah ada dua polisi yang lagi pada update FaceBooknya lewat BB.

Sepertinya kompromi ama si creampenk sudah gak berarti, gw sudah pasrah, ditilang, ya sudahlah. Dalam kepasrahan gw itu, ternyata keluar statemen polisi yang bikin gw empet.
“Mas mau sidang atau denda disini?!”

“Sidang aja pak.” Gw mencoba mempasrahkan diri sebagai WNI yang baik.

“Tapi Jadwal sidangnya kemungkinan 2 bulan lagi, karena sekarang lagi banyak kasus!”

Entah alasan klise atau memang fakta, gw dibuat memilih sidang dengan menunggu waktu selama itu atau denda ditempat.

“Mas, belum pernah ditilangkan, sekali-kali ditilangkan gapapa..., udah denda sekarang aja…?” satu orang polisi yang lagi selonjoran tiba-tiba nyeletuk nggak jelas. “Daripada nunggu 2 bulan..!”.
Hati gw mulai tergoda juga dengan tawaran itu, berhubung gw lagi banyak duit waktu itu. “Ya sudah pak, saya perlu denda berapa?” agak kesel juga sih sebenarnya.

“60.000 mas, mas bisa langsung jalan.”
“Pak saya nggak bawa uang sebanyak itu, saya Cuma ada 20.000!” gw berpura-pura.
“Ya sudah 50ribu!”
“Nggak ada pak, sumpah”.
Sepertinya 2 polisi itu gak percaya kalo gw sama sekali nggak ada uang.

“Ya, Sudah pak saya Cuma ada 30ribu nih, kalo bapak nggak mau terima ya sudah, terserah bapak mau gimana, ditilang nunggu 2 bulan gak masalah, saya adanya Cuma segini.”
Sepertinya kata-kata tawaran gw mematikan. Mereka terdiam melongo, sampe-sampe gw melihat tanda rupiah di atas kepalanya tiba-tiba pecah Praaaank! (Berasa gambar Komik).
Akhirnya 30ribu gw melayang juga ke tangan si Mpolici itu

Miris…, masih ada juga oknum pemerintah yang ngemis-ngemis rupiah dijalanan. Sekarang apa bedanya tingkah pola mereka sama pengamen atau tukang palak.
Rp. 30.000 = makan siang 3 orang polisi = Beramal

Abenk Cyclic (Siklus Abenk)

Sebuah Pertanyaan :
“kok panggilanmu abenk sih?”
Terkadang tiba-tiba keluar dari mulut fans gw yang keheranan kalau sudah tahu nama asli gw sebenarnya. Ya, gw juga bingung kenapa nama itu lebih popular ketimbang “Agus Waluyo” yang notabene nama bawaan sejak orok. Sejak SMP, gw sudah dipanggil teman-teman seangkatan gw dengan sebutan yang kereen itu . Buat yang pertama kali denger mungkin terkesan seperti nama Blasteran Jawa TiongHoa gimana gitu, “Koko Abenk, beli cerutunya donk PeGo...”. Tapi memang nggak bisa disalahkan juga karena gw memang ada sedikit keturunan cina, kalau temen gw bilang sih Cina Gosong bermata besar (Cina apaan tuh!).

Baiklah, akan kuuraikan kisah singkatnya “Just 4 Smile”.

Gw sebenarnya terlahir dengan nama full Agus Dimas Waluyo Hasan Sanapi, “Agus” bukan diambil dari nama bulan dimana gw dilahirkan cuz gw lahir bulan April, entah darimana Alm. babeh dapet inspirasi, “Dimas” itu lawan kata dari Nyimas, yaitu panggilan ningrat yang artinya anak laki-laki yang bagus, baik, ramah, dan rajin menabung, berharap gw keturunan Brama Kumbara atau Nyai Mantili, Kalau “Waluyo”itu singkatan Wage Wolu Loro (Hari Wage 82) yang artinya Hari wage tahun 82 dan sisanya itu, adalah nama belakang Babeh yang ikutan diembel-embelin.

Dengan nama itu gw dianugerahi kekurangan yang kalau gw sadari sekarang adalah sebuah keunikan dari Tuhan, yaitu gw paling takut sama yang namanya “UANG”, memang terdengar aneh, uang dimata gw waktu itu seperti kumpulan bakteri-bakteri yang saling berangkulan dan mengeluarkan bau amis dan bikin mual. Entah apa penyebabnya, waktu itu gw masih terlalu mungil untuk mempertanyakan hal tersebut, kemungkinan jaman dulu uang yang selalu gw pegang-pegang kebanyakan uang logam kembalian dari tukang ikan yang basah, tangan orangnya berdaki, berminyak, berlendir ampe kapalan.

Hingga kelas empat SD gw menjalani keanehan tersebut, dan saat itu gw bener-bener merasakan "betapa nggak enaknya nggak bisa megang uang" (seperti kata pejabat-pejabat jaman sekarang...). Ketika lonceng istirahat berbunyi "teng, teng, teng!" dimana teman-teman gw jajan, gw Cuma bisa duduk-duduk ngobrol , bermain dan terkadang sesekali ngiler memandangi mereka makan dan minum, biarpun begitu gw tetap menjadi anak kecil yang ceria menjalani hari-hari disekolah, dan tercatat selalu masuk The Big Three (ge-er mugholazoh! Alias Narsis abis). Sampai-sampai Kebiasaan jarang makan itu terbawa hingga sekarang, yaitu gw paling jarang makan siang sejak SD dulu. Gw lebih mengenal Makan besar di pagi dan Sore hari. Pagi, nasi warteg serantang sama oreg-oreg dan sambel goreng kentang, sore hari hajar lagi sama nasi dua pincuk plus ayam bakar, plus tempe bakar plus ati ampela goreng ama sambel dan lalapannya (begitu contohnya). (Yang begitu kau bilang jarang makan?)
Keunikan gw tersebut ada untungnya juga buat emak gw, karena tiap hari gw nggak pernah minta uang jajan kalau pergi ke sekolah. Tapi mungkin ada ketakutan juga dalam diri emak gw, gimana kalau gw besar nanti?, gimana caranya bisa nyari duit?, gimana bisa ngidupin anak istri? dll…. Ketakutan emak itu membawa gw menemui orang pintar bertitle Haji di kampung kelahiran gw, sampai akhirnya Pak Haji memvonis kalau gw kelebihan beban pada nama alias keberatan nama, Sambil diberi air minum yang sudah diberi doa-doa, beliau menyarankan agar nama gw dikurangi, dan akhirnya melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang dan wangsit yang menurut Pak haji terima, dipenggallah namaku hingga tersisa dua suku kata “Agus Waluyo”. Padahal, seandainya saja waktu kecil gw udah paham masalah magic itu, gw minta yang dipenggal jangan “Dimas”nya tapi “Agus”nya aja yang terlalu market-an.

Dan Doa-doa pak Haji sepertinya sangat manjur, nggak tahu sugesti, hipnotis atau jalan Tuhan, yang jelas habis malam berobat, bangun tidur pagi-pagi, mandi, dandan, berangkat sekolah dan “Mak…mana uang sakunya”. Nggak tahu gimana perasaan emak gw waktu itu, saat itu gw nggak paham apa yang terjadi, keanehan itu benar-benar hilang bagai ditelan bumi.

Ketika duduk dibangku kelas 1 SMP, nggak tahu kenapa perasaan risih dan males kalau dipanggil dengan sebutan “Agus” muncul begitu saja, dikelasku ada 3 nama Agus yaitu “Agus Sugianto, Agus Purwanto dan of course Si Murah Senyum “Agus Waluyo” (piss!). Ketika salah satu teman ada yang memanggil “Aguuuuus!!!”, menengoklah kami bertiga (100% Be-Te). Itu baru satu kelas doang, belum lagi kalau dijumlahin satu SMP, satu kampung, satu angkot plus satu pasar. Apalagi kalau gw iseng-iseng buka phonebook di Yellow Pages, gw Cuma bisa geleng-geleng kepala. Sampai Akhirnya gw sepakat sama temen segenk SMP, kalau kita harus punya panggilan-panggilan aneh waktu itu. Sepakatlah kita segenk besar punya nama-nama panggilan gaoool gitu dech, ada “Kumel” (Yanto), “Ajay” (Nurjaya), “Kuplax” (Jamal), “Ceker” (Bambang), “Bandi” (juwandi), “Demblo” (Ade G), “Tompel” (Mamat), “Dopar” (Mudofar), dan masih banyak lagi. Pokoknya aneh-aneh tapi tetap punya arti tersendiri. Dan giliran gw di dampratlah dengan julukan “Abenk”, alasannya sih karena gw sering nunggu dan turun angkot depan bengkel, jadi dipadatkanlah menjadi Abenk (Anak depan Bengkel). Awalnya Aneh juga dengernya, gw minta ganti huruf B-nya dengan huruf G biar agak kerenan dikit, tapi malah dibilang udah banyak yang pake nama itu. Haduh mau gimana lagi…..padahal gw berharap bisa dipanggil David, Thomas, atau Chiko gitu. Tapi apa daya komentar gw ditanggapin tapi tidak dianggap, alias temen-temen menerima tapi tetap saja mereka memanggil gw dengan sebutan ABENK. Mau nggak mau gw harus nengok.

Menginjak SMU ampe kuliah panggilan itu terus digunakan, berhubung ada temen genk yang selalu saja satu sekolahan dan satu kampus. Siklus yang gw sadari adalah sebatas itu, selanjutnya entah gimana pola rantainya sampai hampir 95% temanku lebih nyaman memanggilku ABENK. Yah, Abenk Si Blacksweet Limited Edition.

Whatever-lah anda mau memanggilku apa, mau Agus, Abenk, Thomas, David, Chiko, Adly, atau apalah mboten nopo-nopo cuz seperti Pepatah "Apalah artinya sebuah nama". Dan sepertinya, Namaku juga tidak mempunyai makna yang mendalam seperti kata-kata bijak "Nama adalah Doa orang tua" cuz Orang tua jawa jaman dulu apalagi yang awam tentang agama lebih mengedepankan wangsit ketimbang doa. Tapi judul album Peterpan "Sebuah Nama Sebuah Cerita", mungkin pepatah yang tepat buat my familiar name "ABENK" yang belum sempat di bubur merah-bubur putihkan.

Hmmm andai saja seluruh pejabat negeri ini diberi keanehan seperti Abenk kecil, mungkin tak akan ada korupsi (Sambil bertopang dagu, red)

Sabtu, 24 Juli 2010

28 Tahun Welcome...Gw Matang Gonad.

happy birthday arashi-yukawa2 April 2010 genap menghantarkan umur gw pada angka yang sudah tidak muda lagi. Bertambah sekaligus mengurangi jatah hidup gw dimuka bumi ini. Gw ngerasa masih banyak rencana dan harapan yang belum gw laksanakan, wujudkan dan hasilkan. Meskipun begitu, gw masih tetap terus bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan dalam hidup gw selama ini dan insya Allah tidak akan pernah pupus rasa syukurku padaNya. Amin.

Setahun sepertinya bukanlah waktu yang lama, dan sepertinya tahun demi tahun gw lewati tanpa terasa, rasa-rasanya baru kemarin gw merasakan umurku ganjil 27 tahun, kini sudah nambah satu tahun lagi. Dan rasa-rasanya baru kemarin gw mencukur bulu gw dimana-mana, kini sudah tumbuh lagi (Kalimat error!)

Usia 28 tahun sepertinya usia yang kata orang sangat pas untuk memulai sebuah kehidupan yang orang menyebutnya sebagai pernikahan. Ibarat Hewan laut si “Bulu Babi” kalau dalam istilah perikanannya adalah sudah matang gonad alias sudah siap membuahi. Waduh, kok gw disamain sama ikan.
Masalah kawin, memang sekarang sudah mulai masuk dalam daftar List My Hope yang gw simpen di Note Handphone gw, selain Rumah dengan kolam ikan Koi yang besar, Restoran Pecak Lele Nyokap, Tanah, Stasiun Radio ZonaMuda FM, Mobil Avanza second, HP Nexian terbaru dan Lampu emergency untuk di kostan yang sering mati lampu.
Memang dalam List My Hope gw itu, sepertinya Cuma kawin yang bisa masuk di akal dan bisa diwujudkan secepatnya tanpa harus mengeluarkan modal dan biaya yang cukup besar. Tapi apa mau sayangKu nikah Cuma modal akad doang tanpa resepsi?. (Ciah…sayangku…:-)).
:mLove::mGuilty:
Angan-angan lainnya memang Terlalu muluk-muluk, mengingat gaji PNS golongan II yang tak seberapa, paling-paling cukup sekedar buat beli Beras sekarung ama tempe mentah sebakul. Tapi tak apalah, list harapan-harapan itu sekedar buat penyemangat saja dalam menjalani hidup, bekerja dan berkarya.

Perjalanan gw sebagai seorang manusia ganteng di muka bumi ini masih panjang dan harus gw tempuh dengan Spirit and Never give up, entah sampai kapan, Only God Knows.

28 tahun, gonadku matang, birahi memuncak, pengen khawin, fikiran ruwet, beban hidup yang makin berat, pekerjaan yang monoton, perekonomian bagi rata, adek yang pada pengen kuliah, bokap almarhum, kreditan belum lunas, inget nyokap sendirian di kampoong, abang gw pengangguran, udah lama gak ziarah, akh…..semua fikiran tersebut mewarnai hari-hari gw. Selamat datang 28 tahun, life is beautiful, love is beautiful and money is beautiful, and No Money No Happy. (Dasar Matree!).



:mNo:No........!

Di Simpang Jalan


Setiap hari, setiap pagi, setiap sore, setiap Senin sampai Juma’t sampai ketemu Senin lagi, gw mondar-mandir Bogor-Cibinong-Cibinong-Bogor mirip setrika arang. Bedanya kalau setrika mulutnya yang mancung, sedangkan gw hidungnya yang mancung, lainnya semua sama, yaitu item, panas, gerah, berdebu dan berasap. Selain kepanasan, Kadang kehujanan, kadang keanginan (keanginan sudah pasti!), pinggang encok, pundak rematik, paha keram juga mewarnai perjalanan keseharian gw dalam mencari sesuap nasi.

Jarak Kontrakan – Kantor atau sebaliknya, yang hampir mencapai 21 km, biasanya gw tampuh dalam waktu 45 menit, paling cepat 30 menit. Terkadang waktu tempuh bisa mencapai 1 jam lebih jikalau sedang terjadi kemacetan parah dibeberapa titik persimpangan di sepanjang jalan Bogor – Cibinong yang gw lewati. Gw merasa jalan raya menjadi semakin sempit saja dan setiap kendaraan saling berusaha untuk menerobos kemacetan itu dengan saling berebut peluang, mirip sekali dengan tingkah laku gerombolan semut yang lagi pada rebutan tahi cicak (Semut yang aneh..?). Waktu tempuh tersebut belum ditambah dengan waktu berhenti di Lampu Merah, mampir di Pom Bensin, atau sekedar nambal ban motor yang suka nyium paku. Kalau dihitung-hitung, bolak-balik tersebut bisa menghabiskan 1 liter bensin perhari.

:mRempit:Macet memang menjadi menu harian, Bistik knalpot, sayur debu, dan jus Karbon, jadi santapan sehari-hari. Meski melelahkan, tapi perjalanan itu tetap menenangkan. Kepenatan dan kejenuhan di tempat kerjaan bisa hilang sejenak, dengan melihat hiruk-pikuk jalanan yang semrawut mirip urapan jawa. Menenangkan karena terpaan angin dibadan serasa membawa gw terbang (berasa Ali Topan anak jalanan :-)), meski terkadang suka bikin gw masuk angin. Apalagi saat helm gw buka, angin serasa memberikan pijatan refleksi di urat-urat wajah gw yang mirip Adly Fairuz (tetep maksa?), meski gw sempat dibuat bengek sama asap knalpotnya.

Dalam pandangan mata gw yang mirip biji jengkol, di tengah hiruk pikuk kehidupan jalanan yang panas dan berdebu, ternyata tetap ada yang menjadikannya sebagai ladang untuk mencoba mengais rezeki. Pengemis, pengamen dan pedagang asongan memang umum mewarnai riuhnya persimpangan jalan atau lampu merah. Mereka berpacu dengan debu yang menderu, asap yang merebak dan suara klakson yang menggonggong.

Sepanjang jalan, mau tidak mau gw selalu mengamati tingkah laku mereka, dan semakin mata gw mengamati, semakin gw tahu betapa hidup memang harus disyukuri.
Monk Emote -PrayAlhamdulillah...

Jumat, 23 Juli 2010

Jamban vs Avatar (Tragedi Jamban Modern Season 2)


Sekarang bukan cuma Cinta Fitri doank yang punya season, Tragedi Jamban juga punya season. Memang kalau Ngomongin soal Jamban, nggak pernah ada habisnya. Banyak hal yang bisa digali dari sebuah jamban (Kayak Lubang hidung aje digali…). Selain sebagai tempat semedi, tempat menyusun strategi dan tempat berkhayal, Jamban juga dijadikan sebagai tempat yang bisa mendatangkan inspirasi. Bahkan seorang movie maker sekelas Hanung Bramantyo bisa jadi sering mendapatkan inspirasi dari dalam sebuah jamban. Perhatikan saja judul –judul filmnya Jamban-Jamban Cinta atau Perempuan berkalung Jamban (Ha..ha..Piss mas Hanung…), yang bener adalah Ayat-ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban.
:mHaha:
Dan Kalau ngomongin soal jamban, secara sadar pikiran kita akan diingatkan pada sebuah warna yaitu kuning, Kuning is jamban, Jamban is kuning begitulah kira-kira, seperti kalimat yang kerap keluar dari mulut para pujangga cinta “Wajahmu indah laksana kuning-kuning di antara jamban, kulitmu kuning bagaikan bunga jamban, atau Kuning hatiku terombang-ambing seperti jamban di lautan (itu sampan!)”. Bahkan dari dalam jamban, sempat muncul inspirasi gw untuk menulis novel-novel dengan judul, Ku tunggu kau di Seberang Jamban, Biarkan Jamban berbicara atau Cintaku bertepuk sebelah Jamban. Sepertinya novel itu bakal menjadi pesaing berat buku “Gurita Cikeas”. Winning ... by duhcoolies

Tapi Lupakan semua itu, karena gw menulis kembali tentang jamban bukan mau mengulas habis jamban beserta isi-isinya, tapi karena lagi-lagi, gw ketiban sial di dalam sebuah jamban, tentunya jamban modern alias Toilet. Dan kali ini kejadiannya bukan di jamban dengan fasilitas closet jongkok atau jamban jongkok, tapi disebuah Jamban generasi kedua yaitu Jamban dengan fasilitas closet Duduk, gw menyebutnya jamban duduk. Jamban temuan orang barat ini memang sempet bikin otot paha gw meringkel-ringkel. Meski gak sampai salah urat, tapi cukup membuat jalan gw tertatih-tatih karenanya.

Sabtu pagi. Gw memenuhi permintaan adik gw yang minta jalan-jalan ke puncak dan pulangnya mampir dulu ke salah satu mall di Bogor buat nonton AVATAR. Ya, sebuah film percintaan manusia kucing di Planet Pandora yang katanya jempol Tenan…, sekalian buat ngebantu refreshingin otak adik gw sebelum menghadapi Ujian Akhir Semester. Untuk menghindari kemacetan dan pengen ngelihat sunrise di balik bukit kebun teh, Sehabis subuhan Berangkatlah kita dengan berkendaraan Si Biru Supra-X ku yang mesinnya sudah mulai turun berok. Selama berkendaraan menuju puncak, naik sampai turunnya lagi, gw bener-bener ngerasa fit, Tak ada yang aneh atau mengganggu gw selama perjalanan. Pokoknya mulai dari penampilan, gaya, tenaga, sampai persiapan mulai dari tameng angin, sepatu kets, mineral water, isi dompet, semuanya dalam kondisi on and ready to go…apalagi masalah perut, subuh-subuh sudah ku ganjal dengan roti coklat sarikaya yang gw beli di toko 24 jam. Jadi semuanya baik-baik saja, adem, tentrem, gemah ripah, LohJinawi.

Pukul 10.30 menjelang siang, tibalah kita di sebuah mall yang sudah direncanakan. Si Biruku sudah ku istirahatkan di tempat yang aman dan sesaat selesai memarkirkan motor kesayanganku itu, perut gw tiba-tiba kerasa melilit dan kembali rectum gw dibikin antap-untup menahan ampas makanan itu, mungkin ini gejala alergi orang yang gak punya duit tapi belaga masuk mall. Ujung-ujungnya, tujuan pertama gw setelah melewati bom detector petugas pintu mall, bukannya ke gramedia atau makan di food court, tapi gw malah melesat secepat kilat kearah Toilet yang sudah sangat gw rindukan.

Oh jamban…I miss you so much!, Gw tinggalkan adikku di First Floor sebentar. Dan sesampainya di toilet, gw bukannya semangat buat segera mencari Posisi Uwenak, disitu gw malah dibikin males buang air (singkatnya pengen buang air tapi males jongkok), cuz kenapa? karena gw melihat ke empat jamban yang tersedia didesain menyerupai bangku tukang mie ayam semua, yah…semuanya jamban duduk :-(. Kenapa sih nggak disediain Jamban jongkok?, especially buat wong ndeso kayak gw yang nggak biasa pakai Jamban duduk. Gw akui, Kebiasaan orang kota yang sampai sekarang nggak bisa gw ikutin yaitu buang hajat dengan gaya duduk di Jamban duduk. Memang katrok sih, tapi realitanya posisi jongkok lebih menentramkan jiwa ketimbang duduk, cuz gw ngerasa rectum gw seperti paralon yang mengalir plusnong dengan mudahnya, sementara posisi duduk gw merasa rectum gw dibekap oleh cuby-cuby gw (b*k*ng, red).

Hasrat dan nafsu mengalahkan malu, lalu timbul sikap menghalalkan segala cara. Mungkin itu kalimat yang tepat saat gw berada pada posisi kebelet. Bagai telur di ujung tanduk, di tahan nggak kuat, dikeluarkan juga nggak nyaman. Akhirnya demi ketenangan jiwa, raga dan AVATAR, gw terpaksa ulangi kebiasaan inappropriate gw alias nggak tau aturan yaitu jongkok di closet duduk, dengan telapak kaki yang harus kuat dan sabar bertengger di pinggiran closet yang lebar alasnya cuma 3 centimeteran, bener-bener kram dibuatnya. Untunglah Sepatu Kets yang gw pake cukup membantu pijakan kaki gw. Tapi karena memang sudah jalannya mau sial, saat hendak nyari posisi uwenak, Tiba-tiba Kedubrak !!! (Suara tutup closet), pijakan kaki kiri gw tiba-tiba Slip ke arah luar, sampai-sampai dengan posisi duduk badan gw hampir nyemplung ke kubangan closet dan bagian bawah paha kiri gw yang montox membentur bagian tepi closet itu. Dengan bobot badan gw yang hampir super duo jumbo (udah super…,duo…,jumbo lagi..!?), cukup sakit juga otot paha gw menahan beban seberat itu. Dalam rintih kesakitan itu, gw tetap sabar bertengger di jamban itu, cuz satu glondongan hajat pun masih belum ada yang keluar dari rectum gw. Niatan gw sih cukup satu cetakan saja, abis itu udahan. Karena biasanya rasa kebelet E-E itu disebabkan cetakan hajat pertama (Duh nggak penting juga ya ngomongin dodol nanas itu..!?).Con_fus_ed

Di dalam jamban itu boro-boro gw menghayal jadi penyiar radio, karena terlalu pegel menahan keram dan kesemutan. Selain nggak nyaman, di tambah lagi setiap beberapa detik gw harus menembakan air ke closet sebagai penanada kalau di dalam toilet lagi ada orang. Karena syerem juga kalau Cleaning service seenaknya mendorong pintu, melongok dari atas pintu atau menyodokkan kain pelnya dari bawah pintu yang longgar, karena tidak melihat adanya kaki dalam toilet tersebut. Of course karena kaki gw sedang dalam posisi nangkring di jamban yang tingginya hampir 50 cm itu.

Jadi, Jangan salahkan daku jika aku tak bisa menjalan perintahmu wahai jamban, di balik pintu engkau sudah memampang dengan jelas “DILARANG MENAIKI CLOSET”, Tapi apa daya. Ini masalah hidup dan mati gw. Seperti kata kang Adolf Hitler “Sehebat-hebatnya seseorang, dia tidak akan sanggup melawan rasa kebeletnya”. Jadi maafkanlah daku wahai Jamban, Just One Minute…demi Avatar.

Mango Season, Indramayu Primadona


Anda kekurangan serat? Wasiran? Susah BAB atau mungkin sekedar ingin melancarkan sistem pencernaan? manfaatkan buah yang satu ini untuk memperbaiki kondisi serat dalam tubuh anda. Anda bisa puas-puasin memakannya sekilo perhari, 2 kilo perhari atau mungkin sebakul perhari, terserah perut anda. Jangan khawatir.., harganya tidak akan merobek kantong anda apalagi sampai menyayat-nyayat dompet anda, atau memutilasi keuangan anda, karena sekarang memang waktunya Musim mangga.

Buah yang mirip hidung Gareng ini memang lagi musim sekarang, harganya benar-benar lagi ngedrop alias murah banget. Mulai dari 3000/kg sampe 6000/kg, bahkan ada yang menjualnya dengan sistem obral Rp.10.000/3 kg. Bayangin dengan 10.000 rupiah saja anda sudah bisa mendapatkan 12 butir mangga ukuran standar, dan tentu dengan rasa yang lumayan manis, asem, seger jadi satu. Entah apa yang membedakan harga-harga tersebut, tapi kalau gw perhatiin di toko buah, makin matang mangganya makin murah harganya (dalam tanda kutip mengarah ke busuk). Mangga dengan kondisi begini yang biasanya di obral, beda banget sama buah duren yang makin matang makin mahal (Ya Jelas…toh!).

Atau jika anda ingin lebih murah lagi, Datang aja langsung ke petaninya di Indramayu, disana gudangnya semua jenis mangga. Anda bisa beli sekarung dengan harga ekonomis, langsung dari kebunnya (mentah, plus manjat sendiri), paling-paling tambah ongkos perjalanan 100.000 rupiah buat bolak-balik ngelewatin jalur pantura kalau anda dari Jakarta. Ya..sekalian jalan-jalan kesana, melihat indahnya pantai Eretan yang pasti anda belum tahu, sambil makan Bandeng bakar, ditambah dengerin lagu-lagu goyang tarling pantura. Atau bisa juga sekedar maen dan berenang di the bigest of waterboom in west java "kali Cimanuk", pasti seru… (Lagi kesurupan hantu duta wisata, red).

Kalau lagi musim mangga begini, dimanapun ada toko buah pasti disitu ada mangga. Harum manis, Manalagi, dan Indramayu adalah jenis dominan yang bisa dengan mudah kita jumpai di pasar-pasar, di toko-toko buah atau di supermarket. Nama jenis mangga yang gw sebut terakhir tadi adalah di ambil dari nama daerah dimana gw mbrojol, dan mangga ini banyak menjadi buah bibir karena rasanya yang unik dan berbeda (ge-er..).

Senang rasanya kalau nama kota kelahiran kita jadi booming dimana-mana. Meski Cuma berupa tulisan “Mangga Indramayu 4000/kg” yang dipampang ditrotoar atau di sela-sela toko, atau mungkin teriakan si abang penjual di pasar-pasar “ Ayo-ayo Indramayu yang asli, yang manis, 10.000 - 2 kilo”. Tetep ada kebanggan tersendiri dalam diri gw.

Ada yang bilang mangga Indramayu itu crunchy, sematang-matangnya itu mangga kalau dimakan tetap ada rasa-rasa gurih krekes-krekes yang berbeda dengan mangga lain. Dan memiliki rasa yang mak nyus katanya. Ada juga yang bilang mangga Indramayu itu memiliki daging yang tebal dan biji yang kecil seukuran 9 kecoa berpelukan. Tapi sepertinya semua pendapat itu hanya berlaku buat gw yang biasa makan buah mangga hasil panen sendiri di pekarangan rumah. Karena buahnya di panen tepat waktu alias bener-bener tua dan proses pematangan alami tanpa peraman karbit. Berbeda dengan mangga yang gw coba-coba beli di pasar. Agak asem, masih belum terlalu tua (terlihat dari warna kulit, aroma, dan penampakan bijinya yang putih) dan tentu saja hasil peraman si karbit yang membuat warna mangga jadi kuning menggoda.

Sebagai orang yang terlahir di bawah pohon mangga (eh, di kota mangga maksudnya), nggak ada yang spesial sebenarnya dari buah mangga Indramayu, apa karena gw udah bosen dari dalam kandungan udah di cekokin buah mangga ama emak gw waktu ngidam, atau karena gw anak juragan kebon mangga?. Bahkan gw juga nggak tahu sejarah asal muasalnya bisa ada nama jenis mangga yang di ambil dari nama tanah kelahiran gw itu. Dari kecil, gw tahunya mangga itu bernama “Mangga Cengkir”, bahkan sebutan ini juga sampai ke Subang dan Cirebon. Gw baru tahu kalau mangga itu disebut Mangga Indramayau setelah hijrah ke Bogor 9 tahun lalu. Menjadi nama Mangga Indramayu apa karena mangga ini memang pertama kali ditemukan di Indramayu atau hanya tumbuh subur di Indramayu?. Orang tua gw juga nggak pernah ngasih Bed time Story tentang buah mangga.

Dan Setahu gw sejarah Indramayu itu di ambil dari nama seorang Nyai, bernama Endang Dharma Ayu dengan kisah cintanya bersama seorang pangeran, Wiralodra namanya. Dan disana juga tidak disebutkan si Nyai ngidam mangga muda atau pangeran punya kebon mangga, hobby makan mangga, atau menikah dengan mas kawin biji buah mangga.

Entah bagaimana sejarah detilnya, tapi yang jelas Indramayu sudah di juluki sebagai kota mangga, mangga jenis apapun bisa tumbuh dengan baik disana, bahkan kalau anda jalan-jalan ke kotanya anda akan melihat sebuah menara (tugu kale…(lebay!)) yang memasang patung buah mangga besar yang menjadi kebanggan warganya.

Kebanggan warga Indramayu mungkin sama seperti yang di rasakan yang punya Apel Malang, Jeruk Medan, Jeruk Bali, Duku Palembang, Talas Bogor, dan Gajah Lampung (sory ini kategori buah, jadi gajah gak termasuk...!).

Ada sedikit tips buat anda yang mau ngeborong mangga,
1. Pilih buah yang memiliki tekstur yang masih padat, tidak benyek dan tidak memar-memar (karena jatuh, keinjek-injek atau kegencet-gencet).
2. Perhatikan warna kulit buah khususnya pada bagian ujungnya, jika hijau pudar pertanda tua. (Jika beruban dan ompong juga…, itu kakek-kakek bung!)
3. Aroma buah tidak menyengat seperti lebah, jika menyengat biasanya masih terlalu muda.
4. Sisa-sisa tangkai yang terlihat pada pangkal buah agak terlihat masuk kedalam buah. Dan tentu masuknya nggak sampe tembus ke dalam bijinya.
5. Dari dalam buah, biji tidak berwarna putih. Biasanya mengarah pada warna kusam. Tapi kalo anda menemukan kondisi mangga berbiji putih tapi rasa lumayan manis, berarti anda beruntung.

Mari perbaiki kesehatan pencernaan tubuh anda dengan mangga, BAB lancar serasa longgar!

Sabtu, 17 Juli 2010

Lensa (Detik-detik Berkacamata) Part II

Tak puas dengan jawaban dokter yang only “Turn the right and turn the left of the head” alias geleng-geleng kepala mengenai pertanyaan gw tentang mata minus apakah bisa sembuh, malah bikin gw penasaran. (Sampai saat ini gw masih kepikiran bahasa inggrisnya geleng-geleng kepala, apa itu bener ya? Atau mungkin triping, shake of the head, atau ajeb-ajeb?).
Dancing Terd
Sebuah wejangan “Setiap penyakit pasti ada obatnya” menjadi penyemangat gw dalam mencoba mencari penyembuh entah berupa obat, tips, atau petunjuk-petunjuk yang paling tidak mengembalikan semangat dan percaya diri adek gw. Apalagi setelah dia melihat langsung bahasa isyarat dari dokternya yang menyatakan mata minus sulit untuk disembuhkan, mungkin prosentasi Pe-De nya yang hilang makin bertambah. Gw cuma bisa memberi nasehat untuk selalu bersabar dan bersyukur, bersyukur masih bisa melihat, bersyukur minusnya masih kecil, dan bersyukur punya kakak yang mirip Adly Fairuz kalau dilihat pake kacamata. (Yang sentiment biasanya nambahin “ngelihatnya pake sedotan, trus dilihatnya dari puncak Monas”, dasar Narsis!). Gw memang mirip ama Adly Fairuz tapi Adly Fairuz versi penyok yang kebanyakan makan dan bejemur (gemuk dan item, red), mirip kue rengginang ketan item. Puas!! (Kenapa jadi banding-bandingin gw ama Adly Fairuz ya?)

Atas saran dari ibu dokter tercinta untuk segera membeli kacamata sesuai dengan minus matanya, keluar dari rumah sakit gw langsung menjelajahi beberapa Toko Optik di kawasan sepanjang jalan Merdeka, Taman Topi, dan Surya Kencana – Bogor. Gw sempet nanya sama dokternya tentang dimana toko kacamata yang bagus, tapi jawaban dokternya lagi-lagi kurang memuaskan, kata-katanya yang keluar dari mulutnya kalo ditaker cuma segede upil, dia cuma bilang “Banyak kok…”. (Nih bu dokter hidupnya berasa artis kali ya? Ngomongnya mahaaaal banget).

Sebenarnya ini pengalaman pertama gw nguber-nguber toko optik. Ada perasaan khawatir kalau gw nanti ketipu gara-gara gw nggak ngerti masalah kacamata. Pikiran yang mengganggu gw, jangan-jangan pembuat lensanya kurang ahli, plus minus lensanya kurang pas, jangan-jangan harganya dimahalin, jangan-jangan kualitas framenya mudah berkarat, jangan-jangan framenya terbuat dari kawat kiloan atau Jangan-jangan kaca yang dipake sisa-sisa pecahan kaca nako. Waduh…

Keluar dari rumah sakit sekitar jam 7.40 pagi. Sepagi itu, beberapa toko optik masih belum pada buka. Sementara gw juga harus buru-buru ke kantor. Jadi senemunya optik yang buka aja gw datengin.

Berhenti di toko yang pertama, kulihat stoknya cuma sedikit dan model framenya juga sebagian besar kurang cocok dengan bentuk muka adek gw yang agak kotak-kotak gimana... gitu (please, jangan bayangin bentuk muka adek gw mirip bungkusan nasi kotak), padahal kulihat sepanjang dinding dari pintu masuk sampai ke dalam toko terpampang wajah-wajah artis jaman Firaun angkatannya Dessy Ratnasari, Diana pungky, ampe Paramitha Rusady yang pada berpose close up miring berkacamata, bener-bener apa yang dipajang di dinding tidak sepadan dengan koleksei frame yang ada di etalase. Gw bener-bener berasa beli kacamata di era ABGnya emak gw (entah kenapa, wajah-wajah artis yang dipampang bukan wajah artis yang masih fresh gitu? Luna Maya kek, Cut Tari kek, atau Mpok Nori mungkin (khan masih eksis juga dia?)). Karena tak ada satupun model frame yang adek gw suka, kita langsung pamitan ama pelayan tokonya.

Kemudian di toko kedua koleksinya idem sama toko yang pertama. Dan terakhir, singgahlah kita di toko ketiga yang menjadi toko tempat kita memesan akhirnya. Toko ini memiliki koleksi frame yang cukup banyak dan variatif dengan model-model yang masa kini dan nggak masa gitu, pokoknya hampir semua model kacamata ada di sana, mulai dari kacamata Harry Potter sampai kacamata Ian Kasela ada juga disana. Tinggal pilih, tapi jangan sekali-kali anda memesan kacamata tukang las disini. (Sebenarnya harapan gw sih nemu toko yang bisa beli satu dapat dua, (emangnya kue serabi?))

Pilihan kita pada toko terakhir sepertinya nggak salah, di dalam toko itu adek gw dipuji-puji terus sama pelayannya pas nyoba-nyoba frame. Dibilang cantik lah, dibilang anggunlah, dibilang cocoklah buat jibaber, di bilang mirip Zaskia Mecca lah (kalo yang ini bukan pelayannya yang ngomong..) (Lu tu ya… artis satu RT disebut semua, semuanya lu mirip-miripin sama lo ampe nenek moyang lo, trus artis siapa lagi yang mau lo sebut?). Yang jelas pujian-pujian itu membuat adek gw semangat mencoba satu demi satu freme yang ada di etalase.

Setelah dapat model yang cocok, akhirnya kita pesan. Ternyata gw baru tahu kalau harga frame itu lebih mahal dibanding lensanya. Dan gw juga baru tahu kalau harga lensa ditentukan berdasarkan range (baca : renje) angka minusnya. Makin tinggi minus plusnya makin mahal harganya. Kok bisa gitu ya? Padahal kita nggak tahu kaca apa yang pake buat dijadiin lensanya. Mudah-mudahan bukan sisa pecahan botol kecap.

Kacamata sudah kita pesan, dalam waktu sehari kacamata itu sudah jadi, berarti besoknya bisa gw ambil. Sebuah pengeluaran yang tak terduga hari itu, cuz harganya cukup menguras kantong gw ampe lumut-lumutnya.

Sepanjang jalan menuju pulang ke kosan, pertanyaan “masa iya sih mata minus nggak bisa disembuhin?” masih membenak di jaringan otak sebelah kiri gw. Kalau sudah nyampe kantor nanti, gw mau mengobati rasa penasaran gw dengan berkonsultasi sama Mbah Google (www.google.com, red)

Di kantor, saat hendak konsultasi dengan Mbah Google, gw harus antri dulu sama temen sekantor yang juga butuh konsultasi (internetan, red). Cuz diruangan kantor gw cuma ada SAKOME (Satu komputer rame-rame). Sambil menunggu, gw siapain beberapa kata kunci yang nantinya gw search.

Kata kunci pertama “Menyembuhkan Mata Minus”. Bret…!, sejumlah artikel-artikel muncul pada list Mbah google, gw coba klik link pertama munculah sebuah nasehat dari dokter mata yang menyatakan “Cara termudah untuk menjaga agar mata minus tak kian bertambah adalah banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung lutein. Lutein banyak terkandung pada sayuran berwarna hijau. Lutein sangat diperlukan retina sebagai filter terhadap sinar biru yang toksik terhadap makula retina mata. Selain itu ada baiknya Anda juga mengkonsumsi makanan bervitamin A dan beta karoten seperti wortel dan ubi. Banyak-banyaklah konsumsi sayuran, selain Anda mendapatkan manfaatnya bagi mata baik juga untuk tubuh dan kulit”. Habis baca artikel ini Gw jadi teringat sama pola makan adek gw yang carnifora (non-vegetarian kali?), dan memang yang namanya sayur-sayuran dia itu paling Say No!, tapi kalau yang nyuguhin sayurnya Ridho Rhoma, itu lain lagi ceritanya (Tetep ya?).

Link berikutnya, terlihat sepertinya sebuah forum yang memang lagi membahas masalah mata minus. Diujung bagian atas halaman terlihat ada anggota forum yang menanyakan gimana caranya menurunkan minus pada mata, jawabannya aneh-aneh. Ada yang bilang makan aja wortel setiap hari, terus ada yang ngebantah itu cuma mitos, makan wortel satu truk pun mata minus tidak akan sembuh, yang ada lu bakal masuk rumah sakit.

Kemudian ada yang mengajak terapi embun pagi, tapi ribetnya minta ampun, harus dihalaman terbukalah, yang sepi dan tenanglah (katanya biar nggak disangka orang stress), siapin baskomlah buat nampung air embun (bujuuug, gimane ceritanye tuh?). Ada lagi yang bilang pijat refleksi atau pengobatan alternative (yang ini agak ngena di otak gw, sempat terlintas gw jadi pengen ikutan ketik REG JENENG, tapi apa hubungannya ya ama mata minus?).

Terus ada lagi yang menyarankan SENAM MATA, disitu dijelaskan secara detil setiap gerakan mata selama terapi mulai dari pandangan lurus ke depan, lirik kanan, lirik kiri sampai curi-curi pandang (curi-curi pandang? emangnya lagu dangdut? ), yang jelas kalo gw cerna secara mendalam, intinya cuma ada satu kata yaitu Capedeeeeeh…
:mPeluh:

Hampir semua postingan di forum itu menceritakan pendapat dan pengalamannya. Tapi dari semua itu, gw tetep nggak nutup mata sama ilmu kedokteran, yang menyatakan satu-satunya cara menyembuhkan mata minus adalah lewat jalan operasi, dan tentunya dengan biaya yang mahal dan beresiko tinggi. Haduh….ya sutralah kalau memang faktanya begitu, meski sulit disembuhkan yang penting berusaha dan berdoa.


Saat kacamata sudah selesai di rakit..Ku serahkan kacamata tersebut ke tangan adek gw, tentunya dengan diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan sebuah nasehat, "Nasi sudah menjadi bubur, tinggal gimana caranya bubur itu menjadi enak, disukai dan tahan lama. Seperti kata lagunya Seurieus band “Bubuuur jugaaa manusia, punyaaa rasaaa punya hati, jangan sa...makan denga...n pisau belati….!" (itu Rocker bodoh.. bukan bubur...)

Lensa (Detik-detik Berkacamata) Part I

Gw gak tahu gimana rasanya kalau kita yang tadinya punya mata dengan penglihatan normal alias jarak pandang jauh maupun dekat bisa terlihat dengan jelas, terus tiba-tiba mengalami yang namanya “Kuman diseberang laut nampak, sedangkan gajah dipelupuk mata tak nampak” alias mata minus (gak nyambung yah?). Dan pandangan kita berasa seperti pandangan orang yang lagi jatuh cinta “Lihat tai ayam seperti koin emas, Lihat tai kambing seperti butiran mutiara, lihat tai kebo kaya kue klepon raksasa. Dan untuk melihat dengan jelas kita butuh alat bantu yang namanya Kaca Mata, Soft lens atau Kaca spion barangkali. Buat sebagian orang sepertinya itu masalah biasa. Tapi tidak buat adek gw.

Adek gw (gadis 19 th) baru-baru ini mengeluh pusing dan buram kalau melihat benda-benda jauh, kemudian lama-lama benda jauh itu menjadi agak berasap, lama-lama asap tersebut membentuk sosok Ridho Rhoma dan Tring!...lalu menghilang (yang ini di dramatisir) dan berubah menjadi kabut putih tak berbentuk, hingga mentoklah jarak pandangnya menjadi cuma 20 meteran. Tapi saat gw tunjukkin uang 50.000an di depan matanya, penglihatannya kembali cerah dan melihat langit biru menjadi sebiru uang lima puluh ribuan katanya (Dasar…!). Bahayanya lagi, setiap kali dia nyebrang di jalan raya, Tengok ke kanan dan ke kiri yang menurut dia tampak lengang, tiba-tiba tanpa disadari mobil angkot sudah satu meter berada disebelahnya, gw gak kebayang kalau yang lewat itu Truk gandeng atau mobil Tronton, sudah dibuat kaget, di tambah supirnya pake acara nyembur (ibarat peribahasa “Sudah jatuh ketiban tangga besi 20 kg”, kasihan adek gw). Tapi ada yang menenangkan hati gw dari ketidaknormalan matanya, dia ngelihat angkot biru 05 Jasinga – Bubulak berubah menjadi Toyota Avanza (nah lho …).

Pada mulanya gw rada-rada gak percaya dia ngeluh-ngeluh perihal matanya tersebut, tapi makin hari dia bener-bener ngungkapin rasa tersiksanya dengan pandangan yang kabur-kabur teu puguh. Kalau kuliah bawaannya mual lihat presentasi, kalo liat menu makanan di Tegal Resto (Warteg, red) kaya orang lagi nyari kutu, kalo liat bandrol harga diskonan kaya orang lagi masukin benang ke lubang jarum aduh…parah-parah. Dari situ gw mulai tersentuh untuk membawanya ke dokter mata (Emang kakak yang baek….Tapi telat bego!).

Hari Senin pagi-pagi buta gw membawanya ke rumah sakit *&$3#8@1@)%^” sensor! (gara-gara gak mau jadi Prita Mulysari ke dua), (kalau cowok namanya Prito Mulyosarwan (Maksain!)). Jadwal dokter spesialis mata di rumah sakit itu kebetulan jam prakteknya mulai pukul 7.00 pagi. Alhamdulillah, berarti habis dari rumah sakit gw masih bisa datang ke kantor pagi-pagi. Dan di daftar antrian kebetulan banget gw dapet antrian urutan kedua. Jadi tak pula harus menunggu lama.

Di ruang tunggu, di sebelah kiri tempat duduk gw, ada seorang bapak yang dalam bayangan gw frame kacamatanya beraaaaat banget dipanggulnya dan disebelah kanan adek gw ada nenek-nenek yang tiap sepersekian detik mengusap matanya dengan sapu tangan handuk warna birunya. Dan gw ngelihat wajah adek gw seperti orang yang pasrah dan nggak ada semangat hidup. Sesekali dia mengeluh “Ang priben lamon aku ora betah, Kayane ribet ang.” (Bahasa planet yang artinya “Mas, gimana kalau aku gak betah, sepetinya ribet mas). Gw mencoba sesekali menasehati dengan belaga bijaksana yang ujung-ujungnya tetap menawarkan 2 pilihan yang mematikan “Mau Kacamata atau Mata tambah Rabun?”.

Setelah 15 menitan menanti, akhirnya giliran kita menemui Madam Sahara (eh dokter mata). It’s Show time... Di dalam ruangan itu, tak kusangka tak kuduga ternyata Sang dokternya adalah perempuan (Ibu Dokter, red). Dan dia tidaklah sendirian di dalam, dia dibantu oleh seorang asisten yang lebih sopannya di panggil Suster. (Kalimat ini lebay, cuz di rumah sakit manapun seperti ada gula ada semut, dimana ada dokter ya ada suster.., kecuali tu dokter buka praktek sendiri…(please ya dibahas .…?))

Dokter : “Ada keluhan apa de?”
Adek gw : “Mataku dok, kalau ngelihat jauh rasanya buram, bahkan tidak terlihat”.

Seolah sudah tahu permasalahannya, sang dokter langsung memerintahkan suster buat nyiapin peralatan yang gw kagak ngerti bentuknya apa, dan mereka berkomunikasi dengan bahasa roaming yang gw juga ndak mudeng.

Dan kemudian Tara…..Box lensa Uji! (gaya Doraemon ngeluarin alat-alat dari kantong ajaibnya). Saat box dibuka, gw lihat didalamnya itu ada segepok lensa berbagai ukuran plus minus tersusun rapih mulai dari angka terkecil hingga besar, dan sebuah periscope ukuran wajah yang lebih mirip kacamata selam. Disitulah ade gw mulai menjelajahi berbagai ukuran lensa dengan memusatkan penglihatannya pada alat uji berupa tayangan infokus bertulisan berbagai jenis kata, huruf dan angka dengan berbagai ukuran, dan adek gw disuruh membacanya, hingga diperoleh penglihatan terjernih, terjelas, dan terfokus (Please...kayanya yang ini juga lebay, sepertinya semua orang juga tahu cara pemeriksaan mata..). Satu yang gw inget dari kata-kata yang muncul di infokus “R 4 C H 3 L” (Rachel), gw teringet ama ikan arwana gw yang tewas gara-gara ditinggal pulang kampung pas libur lebaran. Dan hasil dari pengujian tersebut didapatlah angka ketidak normalannya yaitu Minus 2 pada mata kanannya sementara Mata kirinya Minus 1,25. Huf….gw cuma bisa menghela nafas, ikhlas, ikhlas.

Setelah proses pengecekan mata, ibu dokter cuma bilang “Baru dirasa sekarang ya?” dan tanpa nasehat apapun langsung menyodorkan secarik kertas yang gw lihat cuma berisi gambar bulatan kacamata tampak depan yang bertuliskan Right Sph 2,00 Left Sph 1,25. Meski gak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, tapi intinya dia mengatakan “Udeh… nih sono beli kacamata!”.

Bujuuug….Dalam hati gw “Yaelah dok, kalo begini doang mendingan gw langsung ke toko kacamata aja. Udah mahal lagi!”. Tapi gw gak mau rugi, gw ajuin beberapa pertanyaan yang pura-pura gw gak ngerti atau memang gw sama sekali gak ngerti, sekaligus supaya adek gw bisa denger langsung penjelasan dokternya.

Gw : “Dok, adek saya pengennya dia pake kacamata baca aja gimana dok?”
Dokter : “Kacamata baca gimana maksud bapak?” (eh …dia balik nanya, malah gw dipanggil bapak lagi!).

Gw juga nggak tahu apa itu kacamata baca, gw cuma disuruh nanya sama Emak yang memang kagak pernah sekolah, cuma buat nyemangatin adek gw biar gak takut menggunakan kacamata permanen.

Gw : “Maksudnya dia pake kacamata pas mau baca atau nonton tv aja dok.” gw belaga sok ngejelasin.
Dokter : “Itu kalo mau minusnya nambah, jadi disarankan kacamatanya di lepas hanya pada saat mau mandi sama tidur aja ya.”
Gw : “Ya, dok.” (Dari tadi kek!, masa harus ditanya dulu..)

Gw : “Trus Dok, ada kemungkinan bisa sembuh gak?”

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi, di telinga gw hanya terdengar semilir gruwug-gruwug suara angin yang keluar dari lobang AC ruangan, gayung benar-benar tidak bersambut, pertanyaan terakhir gw tidak dijawab sepatah katapun oleh sang bu dokter, padahal gw udah lumayan membanjiri meja dia dengan percikan air yang keluar dari mulut gw ketika gw nyebutin huruf “S” pada pertanyaan itu. Dokter hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terus menulis resep (entah resep masakan apa yang dia tulis, serius banget!) tanpa memandang mata gw sama sekali. Otak gw bekerja “ada apa dengan dokter ini?”. Dan akhirnya gw ngeh juga arti dari isyarat face and body language itu, yang kalau diuraikan (dengan gaya “sedakep dan mata pecicilan ala sinetron Indonesia”) menjadi :

“Kalau nanya tuh mbok ya liat-liat dulu mas..., pan lu liat sendiri gw juga pake kacamata!, kalau mata minus bisa disembuhin, dari dulu udah gw copot nih kacamata, terus ngapain juga gw nyembuhin lu dulu, mendingan gw nyembuhin mata gw ndiri!, masa dokternya masih pake kacamata, pasiennya sembuh, khan nggak lucu!"

Gw baru sadar kalau sang ibu dokter tercinta juga pake kacamata, Bu dokter bener-bener ngambek. Selain geleng-geleng kepala, urat di jidatnya juga gw lihat terbentuk lipatan kulit yang menyerupai gelombang pada potongan keripik kentang yang kalau dihitung-hitung ada sekitar 4 ruas. Entah karena kesal atau memang kulitnya sudah keriput.

Padahal, namanya juga pasien awam, apa salahnya nyemangatin orang yang lagi pobhia. Siapa tahu nasehat bisa sembuh dengan terapi kacamata, adek gw jadi semangat pake kacamata. Sepertinya sang dokter kurang belajar psikologi. Yowislah dimana-mana namanya dokter emang selalu dianggap bener dan diangggap paling pinter ama pasiennya. Apapun yang dibilang dokter, pasien cuma bisa bilang “ya, dok.” Kayak gw tadi.

To be continued

Tragedi Jamban Modern

Mimpi apa gw semalem, ketemu Manohara nggak.., ketiban bulan nggak… apalagi jatuh dari Monas trus yang nangkep gw Mbah surip (digendong...) aduh…apalagi itu…Tapi memang dasar nasib, kalau lagi sial mau digimanain juga tetep aja sial, yang namanya bukan rejeki ya..gw kudu ikhlas (meski dalam hati gw bilang sialan, anjrit, setan, kurang ajar, bajingan). Uwouldnt like me when Im angrySabar-sabar….

Duit gw 200rb, yang gw inget banget pecahannya 2 lembaran kertas warna merahorange, dan tinggal segitunye ampe akhir bulan nunggu gajian lagi, raib digondol copet (bahasa yang lebay!…).

Kejadiannya bener-bener cepet dan diluar dugaan. And do you know dimana kejadiannya? di Sebuah Toilet alias jamban modern! Ya..sebuah toilet dengan aksesorisnya gayung warna biru yang rada bocor, ember biru medium tanpa gagang, dan selang warna biru juga yang panjangnya kurang dari 1 meter akan menjadi saksi bisu kejadian pagi itu.

Seandainya Fenny Rose (Silet!) mengupas kejadian pagi itu dengan bibir agak dimonyongin mungkin akan keluar kalimat “Pemirsa BerHati-hatilah Jika anda akan memasuki Toilet!, Jangan sampai anda lupa barang-barang bawaan anda dalam Toilet, karena saat ini maling bukan hanya menyatroni rumah, kantor atau kos-kosan, tapi Toilet!. Semuanya akan menjadi layak dan patut diperbincangkan, semuanya akan dikupas secara tajam, setajam Silet!

Ceritanya begini, Pagi itu gak tahu kenapa perut gw tiba-tiba sakit, mules, dan sang hajat sepertinya sudah diubun-ubun rectum, padahal baru aja gw nyampe di kantor sudah diganggu penyakit perut yang bener-benar gak bisa di ajak kompromi. Sepertinya gara-gara semalem makan “Ayam rica-rica Pedas”, akhirnya gw memutuskan untuk bertapa dalam toilet. Gw gulung setinggi lutut celana panjang hitam gw yang terbuat kain biasa yang gw beli di Pasar Borobudur 25000/meter, gw buka ikat pinggang yang rasanya cukup engap diperut gw, menyusul resleting celana yang agak-agak lepas jaitannya. Saat hendak nyari posisi nyaman alias nonggeng, gw terganggu dengan keberadaan dompet gw yang berasa menonjol di kantong celana bagian belakang, sehingga menghalangi pertemuan antara bagian belakang lutut dan tumit gw yang cukup berotot.

Karena nggak nyaman, gw keluarin itu dompet. Tadinya gw mau masukin ke kantong kemeja, tapi ternyata kantong kemeja gw gak cukup muat buat masukin dompet, maklumlah dompet pemegang uang kas..(Lebay lagi…). Sampai akhirnya gw melihat ada 2 buah paku agak sedikit berkarat terpancong di bagian atas pintu toilet yang notabene berfungsi buat gantungin baju atau celana, sepertinya gantungan itu bisa gw gunakan untuk menyandarkan dompet ke pintu. Dan benar saja dompet itu bisa bersandar dengan tepat dan aman tanpa kuatir jatuh ke lantai toilet yang basah.

Dengan posisi yang gw rasa sudah nyaman, mawadah warohmah, gw menikmati semedi gw yang sepertinya cuma 10 menitan. Selama sepuluh menit itu, gw fokus mengatur pernafasan gw dan melatih tenaga dalam, supaya semua benda-benda berbau hasil proses pencernaan itu keluar semua, dan kulihat hasilnya benarlah adanya kalo penyakit gw ini gara-gara ayam rica-rica semalam, cuz gw ngelihat banyak biji cabe yang tidak tercerna oleh usus 12 jari gw, dan gw inget banget kalau dalam Ayam rica-rica tersebut terdapat banyak gelondongan cabe berwarna warni yang gw kunyah tanpa pandang bulu. Supaya nggak bete nunggu sang feses get-out, dalam semedi itu gw juga berkhayal menjadi penyiar Radio yang cuap-cuap membawakan acara music Zona Weekly Top 40, yang memang cita-cita gw pengen mendirikan stasiun radio dengan nama ZONAMUDA FM (khayalan tingkat tinggi, red). Saking fokusnya gw, ketika kelar semedi dan bersuci. Gw keluar dari tempat tak berjendela itu seperti orang yang baru bebas dari kesengsaraan. Sampai akhirnya gw lupa sama dompet gw yang masih bersandar di pintu toilet. Gw dengan enaknya ngelanjutin kerjaan yang memang sudah menunggu. Sampai-sampai lima menit kemudian….

Cleaning service (CS1) : “Mas ini dompet mas ketinggalan…”
Gw : “Asstaghfirullah… terima kasih ya.”

Ada seorang cleaning service berbaik hati mengantarkan dompet langsung ke tangan gw, sepertinya dia tahu itu dompet gw dari KTP yang ada di dalamnya. waktu gw terima dompet tsb, gw lagi lumayan sibuk dengan kerjaan gw ngukur-ngukur crustacea. Dompet itu langsung gw terima, tanpa berburuk sangka gw langsung masukin ke kantong belakang celana. Tapi sepersekian detik gw teringat sama uang yang ada di dalamnya. Khawatir ada apa-apa langsung gw cek isi dompet tersebut. Dan benar saja uang raib tanpa jejak. Emang dasar pikun, kenapa ini harus terjadi. Andai saja gw rajin mengkonsumsi ginkobiloba buat menambah daya ingat gw.

Gw langsung curiga sama yang mengantarkan dompet itu, langsung gw cari dia dan langsung gw interogasi. Disini gw mo ngasih true story pembicaraannya
Gw :”Mas, dompet ini tadinya ada uangnya sekarang dah gak ada.”
CS 1 : “Sumpah mas, demi Allah, demi istri saya, saya nggak ambil sama sekali!, saya Cuma lihat KTP mas, karena mau saya kembalikan dompet ini…”

Gw sempat gak percaya juga sih dengan pernyataannya, mana ada sih maling yang mau ngaku. Tapi gw gak boleh menuduh sembarangan, dan ketika mendengar keberaniannya bersumpah, dalam hati langsung berkata Ya sudahlah…

Gw : “Tapi setahu mas, sebelum mas menghantar dompet ini, ada lagi gak orang yang masuk ke toilet itu?’
CS1 : “yang bersihin toilet itu sih memang saya mas, tapi sebelum saya masuk sudah ada teman saya Mr.J (nama samaran, red)”.

Gw berniat mencari temennya yang dimaksud itu. Si Mr. J.
Saat Gw interogasi Mr. J , jawabannya selalu ngawur jaka sembung, bener-bener gak nyambung, udah gitu ditanya baik-baik pake acara nyolotin bibirnya yang pada ngelupas gara-gara panas dalem sepertinya. Kurang Hajar juga nih orang, akhirnya gw juga jadi rada esmosi, gw langsung minta dia buat bersumpah demi Allah biar semuanya selesai. Eh…ternyata dia malah gak berani dan cari-cari alasan buat ngeles lagi.

Kecurigaan gw langsung berpindah dari CS1 ke Mr J. Dari interogasi itu terlihatlah matanya berbicara, dan mata hati sepertinya lebih tajam penglihatannya. Dugaan kuat tersangaka Mr. J gw coba tepiskan dulu. Karena gw gak punya bukti kuat, karena dalam toilet itu gak ada CCTV. Bayangin kalo ada CCTV, betapa kerennya kalo gw semedi (Walah…!).

1 hari, 2 hari berlalu, gw mencoba jutek dan males nyapa sekedar nunjukin empetnya gw ama dia. Dan gw parhatikan ada perubahan sikap dalam diri Mr. J, yang tadinya suka ngajak ngobrol gw sekarang mulai pendiam, mukanya ditekuk terus kaya roti tawar yang sudah diolesi selai kacang dan cemberut terus tiap hari, tiap papasan selalu menunduk dan menghindar seperti papasan ama deep collector. Usut punya usut ternyata sempat terjadi ribut dan percekcokan antara CS1 vs Mr.J, sampe mau tonjok-tonjokan segala katanya. Wah, gw jadi gak enak. sepertinya mereka saling salah menyalahkan, Tapi biarlah supaya itu jadi pelajaran buat mereka semua.

Kata-kata bijak "Mana ada maling yang mau ngaku" memang benarlah adanya, biarpun begitu cukup gw ama Tuhan aja yang tahu siapa maling sebenarnya. Meski mata gw gak melihat tapi sepertinya mata hati lebih tajam (karena keseringan di asah pake “gerinda”)

Tips Kalau mau jadi maling professional, harus berani bersumpah atas nama Tuhan biar dosanya nggak naggung, latihan merangkai kata-kata dan jawaban yang meyakinkan, terus latihan body language, latihan berani menatap mata korban saat di interogasi, dan latihan memfokuskan mata buat menunjukkan kebenaran, karena mata itu berbicara (Sumber : Berdasarkan pengalaman pribadi, berarti "Maling dong gw?!")
:mSelam: